“Hari Kedua Bahas Hasil Lima Komisi, Panitia Tegaskan Mubes Murni untuk Memperkuat Persatuan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat Enam Suku Pesisir”

NABIRE, PAPUA TENGAH – GALA MANDIRI – Musyawarah Besar (Mubes) Enam Suku Masyarakat Adat Pesisir dan Kepulauan Kabupaten Nabire memasuki hari kedua pelaksanaan, Jumat (31/7/2026), dengan suasana sidang yang berlangsung dinamis, penuh antusiasme, namun tetap tertib dan kondusif.
Bertempat di Manase Beach, Kalibobo, Mubes menjadi ruang bersama bagi seluruh perwakilan enam suku untuk menyampaikan pandangan, usulan, serta merumuskan berbagai keputusan strategis yang akan menjadi dasar penguatan eksistensi masyarakat adat pesisir dan kepulauan di Kabupaten Nabire.
Agenda hari kedua difokuskan pada penyampaian hasil pembahasan dari masing-masing komisi. Setelah pada hari pertama Komisi I dan Komisi II menyelesaikan pembahasannya, hari kedua dilanjutkan dengan pemaparan hasil Komisi III, Komisi IV, dan Komisi V.
Setiap hasil komisi dipresentasikan oleh ketua dan sekretaris komisi, kemudian mendapat tanggapan dari komisi lainnya. Untuk menjaga efektivitas jalannya persidangan, pimpinan sidang memberikan kesempatan kepada maksimal dua orang dari masing-masing komisi untuk menyampaikan masukan maupun tanggapan.
Suasana diskusi berlangsung hidup dengan berbagai pandangan yang disampaikan peserta. Meski terdapat sejumlah perbedaan pendapat dalam beberapa pembahasan, seluruh proses tetap berjalan dalam semangat musyawarah dan mufakat.

Sekretaris Panitia Mubes, Albertino Hanebora, mengatakan pelaksanaan Mubes hingga hari kedua menunjukkan tingginya partisipasi masyarakat adat. Menurutnya, seluruh peserta aktif memberikan gagasan demi menghasilkan keputusan terbaik bagi masa depan enam suku pesisir.
“Puji Tuhan, sampai hari kedua seluruh rangkaian Mubes berjalan dengan sangat baik, ramai, penuh antusiasme, dan tetap kondusif. Semua peserta terlibat aktif dalam memberikan saran, pendapat, maupun masukan untuk memperkuat hasil-hasil musyawarah,” ujarnya.
Albertino menjelaskan, Mubes dibagi ke dalam lima komisi dengan fokus pembahasan yang telah disepakati bersama. Komisi-komisi tersebut membahas berbagai isu strategis, mulai dari adat dan kelembagaan, organisasi kemasyarakatan, politik, hingga berbagai persoalan yang berkaitan dengan perlindungan hak-hak masyarakat adat pesisir.
Ia mengakui bahwa pada pembahasan Komisi V muncul sejumlah dinamika, terutama terkait keberadaan organisasi-organisasi adat, usulan pembentukan suku baru, serta penguatan kelembagaan adat di Nabire. Namun seluruh perbedaan pandangan dapat dibahas secara terbuka dalam forum tanpa mengganggu jalannya persidangan.


Selain pembahasan komisi, panitia juga menargetkan proses pemilihan kepala suku yang masih mengalami kekosongan dapat diselesaikan dalam Mubes kali ini. Tiga kepala suku yang akan dipilih yakni Kepala Suku Mora, Kepala Suku Wate, dan Kepala Suku Umari.
Panitia berharap seluruh tahapan tersebut dapat diselesaikan sebelum penutupan Mubes pada 1 Agustus 2026 sehingga forum dapat menghasilkan keputusan kolektif yang menjadi pedoman bersama bagi enam suku pesisir.
“Kami berharap seluruh proses pemilihan dapat berjalan lancar sehingga pada hari terakhir Mubes kita sudah memiliki keputusan bersama sekaligus menetapkan kepala-kepala suku yang baru. Ini menjadi bagian penting dalam memperkuat kepemimpinan adat di wilayah pesisir,” kata Albertino.


Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Mubes Enam Suku merupakan momentum bersejarah karena untuk pertama kalinya seluruh masyarakat adat pesisir dan kepulauan duduk bersama dalam satu forum besar untuk membahas masa depan bersama.
Menurutnya, seluruh keputusan yang dihasilkan nantinya akan disampaikan kepada pemerintah sebagai rekomendasi resmi agar mendapat perhatian dan tindak lanjut dalam berbagai kebijakan pembangunan yang menyangkut masyarakat adat.
Albertino juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung kelancaran pelaksanaan Mubes, mulai dari masyarakat enam suku, aparat keamanan, pemerintah, hingga insan pers yang aktif mempublikasikan seluruh rangkaian kegiatan kepada masyarakat luas.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung pelaksanaan Mubes ini. Dukungan masyarakat, aparat keamanan, pemerintah, dan rekan-rekan wartawan sangat berarti sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung aman, tertib, dan diketahui oleh masyarakat luas,” ungkapnya.

Ia kembali menegaskan bahwa Musyawarah Besar Enam Suku tidak memiliki kepentingan politik tersembunyi. Forum ini, katanya, murni menjadi wadah pemersatu masyarakat adat pesisir dan kepulauan untuk memperkuat kelembagaan adat, melahirkan kebijakan perlindungan terhadap hak-hak masyarakat adat, serta menjaga identitas dan keberlangsungan enam suku pesisir di Kabupaten Nabire.
“Dari awal hingga akhir, Mubes ini murni untuk kepentingan masyarakat adat. Tidak ada agenda politik terselubung. Tujuan utama kami adalah memperkuat persatuan enam suku, melahirkan keputusan-keputusan strategis, serta membangun perlindungan terhadap hak dan keberadaan masyarakat adat pesisir dan kepulauan di Nabire,” tegasnya.

Dengan masih tersisanya satu hari pelaksanaan, peserta Mubes optimistis seluruh agenda dapat diselesaikan sesuai jadwal, sehingga forum bersejarah tersebut mampu menghasilkan keputusan yang menjadi tonggak baru bagi penguatan eksistensi masyarakat adat enam suku pesisir dan kepulauan di Kabupaten Nabire. (RED-GALA MANDIRI)


Leave A Comment