IMG-20260907-WA0026

Sofianti Pekei, Satu-satunya Pecatur Perempuan OAP yang Berani Bertanding Melawan 37 Pecatur Laki-laki di Nabire

NABIRE, PAPUA TENGAH – GALA MANDIRI – Dunia olahraga catur di Kabupaten Nabire kembali menghadirkan kisah inspiratif. Di tengah puluhan peserta laki-laki yang mengikuti Kejuaraan Catur Sehari yang digelar PERCASI Kabupaten Nabire, Minggu (6/9/2026), hadir satu sosok perempuan muda yang tampil penuh keberanian dan semangat.

Ia adalah Sofianti Pekei, seorang siswi SMAN 1 Nabire yang menjadi satu-satunya peserta perempuan Orang Asli Papua (OAP) dalam kejuaraan tersebut.
Dari total 38 peserta yang mengikuti Kejuaraan Catur Sehari PERCASI Kabupaten Nabire, Sofianti menjadi satu-satunya perempuan. Sementara 37 peserta lainnya merupakan pecatur laki-laki. Kondisi tersebut membuat perjalanan Sofianti dalam setiap pertandingan tidaklah mudah.
Namun, berada di tengah dominasi peserta laki-laki tidak membuat Sofianti merasa minder atau kehilangan kepercayaan diri. Sebaliknya, ia tetap duduk di depan papan catur, menyusun strategi, membaca pergerakan lawan, dan berusaha memberikan permainan terbaiknya dalam setiap pertandingan.
Bagi Sofianti, catur bukan sekadar permainan. Catur adalah olahraga yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sejak kecil.
Berawal dari Keluarga yang Mencintai Catur
Saat berbincang dengan Gala Mandiri News, Sofianti menuturkan bahwa ketertarikannya terhadap olahraga catur berawal dari lingkungan keluarganya.
Menurutnya, keluarga memiliki kegemaran bermain catur. Dari situlah ia mulai mengenal papan catur, bidak-bidak permainan, serta berbagai strategi yang digunakan dalam pertandingan.
Sofianti mengaku pertama kali belajar bermain catur dari ayahnya. Sang ayah menjadi orang yang mengenalkannya pada dasar-dasar permainan catur, mulai dari cara menggerakkan bidak hingga memahami strategi dalam menghadapi lawan.
“Awalnya saya belajar dari keluarga, terutama dari ayah saya. Dari situ saya mulai mengenal catur, cara bermain dan bagaimana bertanding dengan lawan,” tutur Sofianti.
Dari lingkungan keluarga, kecintaannya terhadap olahraga catur terus berkembang. Permainan yang awalnya hanya menjadi kegiatan bersama keluarga, perlahan berubah menjadi hobi yang serius dan menjadi salah satu aktivitas olahraga yang rutin dilakukannya.
Menurut Sofianti, sejak kecil dirinya terus mendapat bimbingan dan dukungan dari orang tua untuk mengenal serta mengembangkan kemampuan bermain catur.
Belajar Strategi Catur Lewat Perkembangan Teknologi


Seiring perkembangan teknologi informasi, Sofianti tidak hanya belajar dari pengalaman bermain secara langsung. Ia juga memanfaatkan teknologi untuk memperluas pengetahuan dan meningkatkan kemampuan bermain catur.
Melalui berbagai sumber di internet, Sofianti mempelajari langkah-langkah permainan para pecatur dunia dan grand master.
Ia mencoba memahami berbagai strategi yang digunakan oleh para pemain profesional, mulai dari teknik membuka permainan, membangun pertahanan, melakukan serangan, hingga strategi untuk menjebak lawan.
Menurutnya, perkembangan teknologi memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk belajar, termasuk dalam dunia olahraga catur.
Dengan memanfaatkan berbagai sumber pembelajaran yang tersedia, ia terus berusaha memperdalam pengetahuan dan memahami berbagai kemungkinan langkah yang dapat terjadi dalam sebuah pertandingan.
“Sekarang dengan perkembangan IT, saya juga belajar langkah-langkah permainan para grand master dunia. Saya belajar bagaimana cara bertahan, menyerang, sampai memahami strategi untuk menjebak lawan,” ujarnya.
Baginya, bermain catur membutuhkan konsentrasi, kesabaran, serta kemampuan membaca situasi. Setiap langkah yang dimainkan harus dipikirkan secara matang karena satu kesalahan kecil dapat memberikan keuntungan kepada lawan.
Pernah Menjadi Juara Catur Tingkat SMP

Perjalanan Sofianti dalam dunia catur bukan baru dimulai pada Kejuaraan Catur Sehari PERCASI Kabupaten Nabire.
Sebelumnya, ia juga pernah mengikuti kejuaraan catur pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Dalam kejuaraan tersebut, Sofianti berhasil menunjukkan kemampuan terbaiknya hingga keluar sebagai juara pertama.
Prestasi tersebut menjadi salah satu bukti bahwa ketertarikannya terhadap olahraga catur bukan sekadar hobi biasa. Ia telah memiliki pengalaman dalam mengikuti kompetisi dan merasakan persaingan di atas papan catur.
Keberhasilan meraih juara pertama di tingkat SMP juga menjadi salah satu motivasi bagi Sofianti untuk terus mengembangkan kemampuannya.
Meski demikian, ia menyadari bahwa dunia catur membutuhkan proses belajar yang panjang.
Setiap pertandingan menghadirkan lawan yang berbeda, strategi yang berbeda, serta pengalaman baru yang dapat menjadi pelajaran untuk meningkatkan kemampuan.
Satu-satunya Perempuan di Tengah Dominasi Pecatur Laki-laki


Keikutsertaan Sofianti dalam Kejuaraan Catur Sehari PERCASI Kabupaten Nabire memiliki cerita tersendiri.
Dari 38 peserta yang mengikuti kejuaraan tersebut, hanya Sofianti yang merupakan peserta perempuan. Sebanyak 37 peserta lainnya adalah laki-laki.
Situasi tersebut membuat Sofianti harus menghadapi para pecatur laki-laki dalam pertandingan.
Namun, kondisi itu tidak membuatnya mundur.
Ia tetap mengikuti pertandingan dengan penuh semangat dan menjadikan setiap lawan sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Sofianti mengakui bahwa jumlah perempuan yang menekuni olahraga catur masih sangat sedikit.
Menurutnya, perempuan yang aktif mengikuti pertandingan atau kompetisi catur bahkan bisa dihitung dengan jari.
Karena itu, ia berharap kehadirannya dalam kejuaraan tersebut dapat memberikan motivasi kepada perempuan-perempuan muda lainnya, khususnya generasi muda Papua, untuk tidak ragu mencoba dan menekuni olahraga catur.
Tidak Juara, Tetapi Tidak Pernah Patah Semangat
Dalam Kejuaraan Catur Sehari tersebut, Sofianti memang belum berhasil masuk dalam kategori juara.
Namun, hasil pertandingan tersebut tidak membuatnya merasa kecewa secara berlebihan atau kehilangan semangat.
Sebaliknya, Sofianti justru melihat pengalaman tersebut sebagai kesempatan untuk belajar.
Ia ingin memahami kelemahan dalam permainannya, mempelajari strategi lawan, serta mengevaluasi setiap pertandingan yang telah dijalani.
Menurutnya, kekalahan bukanlah akhir dari perjalanan seorang atlet.
Setiap pertandingan, baik menang maupun kalah, tetap memberikan pelajaran yang berharga.
“Walau kali ini saya tidak juara, saya tidak pernah merasa patah semangat. Apalagi semua lawan yang saya hadapi adalah laki-laki. Saya belajar melihat kelemahan dan kelebihan lawan, sehingga ke depan saya akan lebih baik lagi,” ungkap Sofianti.
Semangat tersebut menunjukkan bahwa Sofianti memiliki tekad untuk terus berkembang.
Baginya, hasil sebuah pertandingan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Proses belajar, pengalaman menghadapi lawan, dan keberanian untuk terus mencoba juga menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang pecatur.
Ia berharap pengalaman mengikuti Kejuaraan Catur Sehari PERCASI Kabupaten Nabire dapat menjadi bekal untuk mengikuti kompetisi-kompetisi berikutnya.
Mengajak Generasi Muda Perempuan Mengenal Dunia Catur
Dalam kesempatan tersebut, Sofianti Pekei juga mengajak generasi muda, khususnya kaum perempuan, untuk tidak takut mengenal dan terjun ke dunia olahraga catur.
Menurutnya, catur merupakan olahraga yang sangat menarik dan menyenangkan.
Selain melatih kemampuan berpikir, olahraga catur juga mengajarkan seseorang untuk lebih sabar, teliti, dan mampu mengambil keputusan.
Melalui permainan catur, seseorang juga dapat belajar membaca kekuatan dan kelemahan, baik kekuatan diri sendiri maupun strategi yang dimainkan lawan.
“Catur itu olahraga yang mengasyikkan. Dalam catur kita belajar memahami kelemahan dan kelebihan. Kita juga akan tahu bagaimana cara bertahan, menyerang, bahkan menjebak lawan,” ujarnya sambil tersenyum.
Sofianti berharap semakin banyak perempuan yang tertarik untuk bermain dan mengikuti pertandingan catur.
Menurutnya, tidak ada alasan bagi perempuan untuk merasa bahwa olahraga catur hanya diperuntukkan bagi laki-laki.
Siapa pun dapat belajar dan berkembang selama memiliki kemauan, ketekunan, serta semangat untuk terus berlatih.
Keberanian Sofianti tampil sebagai satu-satunya peserta perempuan OAP di tengah 37 pecatur laki-laki menjadi pesan tersendiri bagi generasi muda.
Bahwa keterbatasan jumlah peserta perempuan tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti mencoba.
Sofianti Pekei telah membuktikan bahwa keberanian untuk duduk di depan papan catur, menghadapi lawan, dan terus belajar merupakan langkah awal untuk meraih prestasi yang lebih besar.
Meski belum membawa pulang gelar juara dalam Kejuaraan Catur Sehari PERCASI Kabupaten Nabire tahun 2026, Sofianti tetap pulang dengan pengalaman berharga.
Bagi dirinya, pertandingan tersebut bukan akhir, melainkan bagian dari perjalanan panjang untuk menjadi pecatur yang lebih baik.
Dengan semangat yang terus menyala, Sofianti bertekad untuk terus belajar, berlatih, dan mengembangkan kemampuan.
Ia juga berharap suatu saat nanti akan semakin banyak perempuan Papua yang berani duduk di depan papan catur, menggerakkan bidak, menyusun strategi, dan membuktikan kemampuan mereka dalam berbagai kejuaraan.
Sofianti Pekei mungkin menjadi satu-satunya pecatur perempuan dalam kejuaraan tersebut, tetapi keberaniannya telah menunjukkan bahwa satu langkah kecil dapat menjadi inspirasi besar bagi generasi berikutnya.
Ia berterima kasih kepada Ketua PERCASI Kabupaten Nabire H.Muhammad Iskandar yang memberi reward untuknya. (RED-GALA MANDIRI)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *