

Nabire, Papua Tengah-GALA MANDIRI-Warga Kampung Wanggar Pantai, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, mengeluhkan dampak kerusakan lingkungan akibat luapan Kali Wanggar yang telah berlangsung selama kurang lebih satu bulan terakhir. Hingga kini, masyarakat mengaku belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah daerah maupun DPR Provinsi Papua Tengah.
Keluhan tersebut disampaikan langsung kepada Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Papua Tengah (DPRPT), John N.R. Gobai, dalam pertemuan bersama warga terdampak.

Perwakilan masyarakat menyebutkan bahwa ini merupakan dampak kedua yang mereka alami dalam kurun waktu singkat. Namun, hingga hari ini, belum ada langkah konkret dari pemerintah provinsi maupun kabupaten untuk menangani persoalan tersebut.
“Kami sudah datang menyampaikan aspirasi ke DPR, kami sudah bersuara, kami sudah cerita kondisi di kampung. Tapi sampai hari ini belum ada respons nyata. Akhirnya kami masyarakat berusaha sendiri,” ungkap salah satu perwakilan warga.

Warga menjelaskan bahwa pada November lalu, mereka sempat mengumpulkan dana secara swadaya hingga mencapai Rp30 juta untuk melakukan upaya darurat membuka alur sungai. Namun, upaya tersebut tidak bertahan lama.
“Alurnya sudah kami buka, tapi karena bagian depan sungai ini sempit, akhirnya tertutup lagi. Air tidak tertampung, lalu debitnya lari ke arah kampung,” jelasnya.

Akibat kondisi tersebut, luapan air kembali terjadi dan semakin memperparah kerusakan lingkungan. Bahkan, sehari sebelumnya warga kembali berinisiatif meminta bantuan alat berat dari salah satu perusahaan untuk membuka jalur penyeberangan dan memperbaiki alur sungai. Namun, aliran sungai kembali tertutup dan jebol.

“Kalau soal jalan sebenarnya sudah kami buka, tinggal action saja. Tapi yang paling penting hari ini itu lingkungan kami sudah rusak parah. Kampung kena, gereja kena, sekolah kena, semua kena,” keluh warga.
Masyarakat Kampung Wanggar Pantai menerangkan bahwa kondisi Kali Wanggar saat ini sudah tidak lagi berada di badan sungai yang semestinya. Aliran air telah merampas wilayah pemukiman warga dan mengancam akses jalan utama yang menghubungkan kampung.
“Sedikit lagi jalan putus. Kami minta dilakukan normalisasi sungai, dikembalikan ke badan sungai yang semula, dan dibuat bendung supaya air tidak terus makan ke kampung,” tegas perwakilan warga.

Warga berharap Pemerintah Provinsi Papua Tengah bersama Pemerintah Kabupaten Nabire segera turun tangan untuk menangani persoalan ini secara serius dan menyeluruh, bukan sekadar penanganan darurat.
Mereka menilai, tanpa normalisasi sungai dan pembangunan bendung yang permanen, bencana serupa akan terus berulang dan mengancam keselamatan serta aktivitas masyarakat di Kampung Wanggar Pantai.
“Kami mohon perhatian dari pimpinan dan pemerintah. Jangan tunggu sampai kampung ini rusak total atau akses jalan benar-benar terputus,” tutup perwakilan warga. (RED-GALA MANDIRI)


Leave A Comment