IMG-20260910-WA0076

Pemprov Papua Tengah Perkuat TPOJ, Pangan Lokal Didorong Jadi Kekuatan Ekonomi Masyarakat


‎MIMIKA, PAPUA TENGAH | GALA MANDIRI — Pemerintah Provinsi Papua Tengah terus mendorong penguatan pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan kelompok Tanam, Petik, Olah, Jual (TPOJ). Program tersebut dinilai tidak hanya berkaitan dengan aktivitas pertanian dan pengolahan pangan, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun rantai ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.


‎Hal tersebut disampaikan Gubernur Papua Tengah Meki F. Nawipa melalui sambutan tertulis yang dibacakan Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan, Herman Kayame, dalam kegiatan Training of Trainer (TOT) bagi tenaga pendamping kelompok Tanam, Petik, Olah, Jual (TPOJ) di Mimika, Kamis (10/9/2026) di Hotel Grand Mimika Kabupaten Timika Papua Tengah.
‎Dalam sambutannya, Gubernur Meki mengatakan TPOJ bukan sekadar rangkaian kegiatan menanam, memetik, mengolah, kemudian menjual hasil produksi. Lebih dari itu, TPOJ merupakan sebuah rantai pemberdayaan yang diharapkan mampu menghubungkan potensi alam dengan peningkatan pendapatan keluarga serta pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat.


‎“Bagi saya, TPOJ bukan sekadar kegiatan menanam, memetik, mengolah, lalu menjual. Di dalamnya terdapat satu rantai pemberdayaan yang lengkap,” demikian pesan Gubernur yang disampaikan Herman Kayame.
‎Menurutnya, proses pemberdayaan dimulai dari pemanfaatan sumber daya yang tersedia di lingkungan masyarakat. Hasil pertanian maupun pangan lokal kemudian diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah, sehingga pada akhirnya dapat menjadi sumber pendapatan keluarga sekaligus mendukung ketersediaan pangan bergizi bagi masyarakat.
‎Papua Tengah, kata Gubernur, memiliki kekayaan pangan lokal yang sangat beragam. Berbagai jenis umbi-umbian, ikan, sayur-sayuran, hasil kebun dan komoditas lokal lainnya memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk pangan sehat sekaligus bernilai ekonomi.


‎Karena itu, pelatihan TPOJ diarahkan agar peserta mampu memetakan potensi pangan yang benar-benar tersedia di wilayah masing-masing. Potensi tersebut selanjutnya dikembangkan melalui proses pengolahan yang baik sehingga dapat menghasilkan produk yang mempunyai nilai jual lebih tinggi.
‎Gubernur juga mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap pangan lokal. Pangan lokal, menurutnya, tidak seharusnya hanya dipandang sebagai makanan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi harus ditempatkan sebagai salah satu kekuatan ekonomi masyarakat Papua Tengah.
‎Namun, untuk menjadikan pangan lokal sebagai kekuatan ekonomi, pemerintah menilai diperlukan standar produksi yang baik. Produk harus dihasilkan secara bersih, aman dikonsumsi, memiliki nilai gizi yang baik, serta mempunyai kualitas yang konsisten.
‎Atas dasar itu, peserta TOT tidak hanya dipersiapkan untuk memahami materi secara teori. Mereka diharapkan mampu menjadi trainer sekaligus pendamping yang dapat membawa pengetahuan dan keterampilan tersebut kembali ke kelompok-kelompok TPOJ di kabupaten masing-masing.


‎Salah satu aspek penting yang ditekankan dalam pelatihan adalah keamanan pangan. Para peserta dibekali pemahaman mengenai kebersihan, pemisahan bahan mentah dan makanan matang, pengolahan yang benar, penyimpanan dalam kondisi aman, serta penggunaan air dan bahan baku yang bersih.
‎Selain itu, peserta juga diarahkan untuk mampu mengidentifikasi berbagai risiko kontaminasi sejak proses tanam dan petik, pengolahan, hingga produk tersebut dipasarkan kepada konsumen.


‎Gubernur menegaskan, pengembangan pangan tidak hanya diukur dari seberapa banyak produk yang dapat dihasilkan atau seberapa besar nilai penjualannya. Aspek kesehatan dan keamanan konsumen juga menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan.
‎“Jangan sampai kita ingin meningkatkan ekonomi masyarakat, tetapi mengabaikan kualitas dan keamanan produksinya,” tegasnya dalam sambutan tersebut.
‎Dikaitkan dengan Program Makan Bergizi Gratis
‎Pemerintah Provinsi Papua Tengah juga melihat adanya peluang untuk menghubungkan produk kelompok TPOJ dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
‎Menurut Gubernur, peluang tersebut perlu dipersiapkan secara serius karena produk pangan lokal berpotensi menjadi bagian dari rantai pasok program pemerintah. Namun, produk lokal tidak serta-merta dapat masuk ke dalam rantai pasok MBG hanya karena berasal dari daerah setempat.
‎Ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi, mulai dari standar higienis dan sanitasi, konsistensi kualitas produk, hingga mekanisme dan proses pengadaan.
‎Karena itu, pemenuhan standar menjadi salah satu tahapan awal yang harus dipahami oleh para pelaku TPOJ sebelum produk mereka diarahkan masuk ke pasar yang lebih luas.
Sasar 8 Kabupaten


Sementara itu, Herman Kayame menjelaskan bahwa pelaksanaan TOT tersebut menyasar delapan kabupaten di Provinsi Papua Tengah. Namun, terdapat enam kabupaten yang menjadi prioritas utama, yakni Puncak Jaya, Puncak, Intan Jaya, Paniai, Dogiyai dan Deiyai.
‎Selain enam kabupaten tersebut, pemerintah juga melibatkan dua kabupaten lainnya, yakni Mimika dan Nabire.
‎Herman mengatakan, program TPOJ merupakan salah satu program inovasi sekaligus program prioritas Gubernur Papua Tengah. Karena itu, pelatihan tidak berhenti pada kegiatan TOT di tingkat provinsi.
‎Peserta yang telah mendapatkan pelatihan diharapkan kembali ke daerah masing-masing untuk meneruskan pengetahuan tersebut kepada kelompok-kelompok masyarakat di tingkat kabupaten hingga kampung.
‎“Setelah peserta yang dilatih di setiap kabupaten/kota ini nanti mereka akan kembali ke kabupaten untuk melatih setiap kampung atau setiap kelompok di kabupaten masing-masing. Kalau perlu setiap desa, mereka sudah harus punya ibu-ibu yang sudah mendapatkan pengetahuan,” jelas Herman kepada wartawan usai kegiatan.
‎Ia menambahkan, pada tahun ini setiap kabupaten ditargetkan memiliki sekitar 30 peserta yang mendapatkan pelatihan. Para peserta tersebut selanjutnya diharapkan menjadi tenaga yang mampu mentransfer pengetahuan kepada masyarakat di wilayah masing-masing.


‎Dengan pola tersebut, pemerintah berharap TPOJ tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan, tetapi berkembang menjadi gerakan pemberdayaan masyarakat yang mampu mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai ekonomi, aman dikonsumsi, serta memiliki peluang untuk masuk ke pasar yang lebih luas.
<span;>‎Program ini sekaligus diharapkan dapat memperkuat peran perempuan dan kelompok masyarakat dalam mengembangkan usaha berbasis pangan lokal, meningkatkan pendapatan keluarga, serta mendukung ketahanan pangan di Papua Tengah. (RED-GALA MANDIRI/Humas Pemprov)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *