
NABIRE, PAPUA TENGAH –GALA MANDIRI- Musyawarah Besar (Mubes) Masyarakat Adat Enam Suku Pesisir dan Kepulauan resmi ditutup pada Sabtu malam (1/8/2026) di Manase Beach, Kalibobo, Kabupaten Nabire, Papua Tengah.
Penutupan Mubes dilakukan oleh Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Saireri, Socrates Sayori, bersama enam Kepala Suku dan Dewan Adat, setelah rangkaian sidang dan pembahasan yang berlangsung selama tiga hari sejak 30 Juli hingga 1 Agustus 2026.
Acara penutupan turut dihadiri Wakil Ketua I MRP Papua Tengah Paulina Marey, Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah John NR Gobai, anggota DPR Papua Tengah Piter Worabay dan Stella Misiro, Kabinda Papua Tengah, serta sejumlah tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, dan tokoh perempuan.
Antusias Peserta Lampaui Target

Ketua Panitia Pelaksana Mubes, Daud Monei, dalam laporannya menyampaikan rasa syukur karena Mubes pertama masyarakat adat Enam Suku Pesisir dan Kepulauan dapat berlangsung dengan aman, lancar, dan penuh makna meskipun diwarnai berbagai dinamika.
Menurutnya, dinamika yang terjadi selama persidangan merupakan bagian yang wajar dalam sebuah proses musyawarah untuk mencapai keputusan terbaik bagi masyarakat adat.
Ia menjelaskan bahwa panitia semula menargetkan sebanyak 600 peserta, dengan alokasi masing-masing 100 peserta dari setiap suku. Namun antusias masyarakat jauh melampaui perkiraan.
”Hingga malam penutupan, jumlah peserta yang hadir mencapai 1.063 orang. Ini merupakan sesuatu yang luar biasa dan menunjukkan besarnya harapan masyarakat terhadap Mubes ini,” ujarnya.
Daud Monei juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Nabire, para donatur, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, baik berupa tenaga maupun bantuan material sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan baik.
Atas nama panitia, ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama pelaksanaan Mubes masih terdapat kekurangan dalam pelayanan akibat jumlah peserta yang jauh melebihi rencana awal.
Ketua LMA Saireri : Jangan Ada yang Kecewa dengan Hasil Mubes

Ketua LMA Saireri, Socrates Sayori, mengajak seluruh masyarakat untuk menerima hasil-hasil Musyawarah Besar sebagai keputusan bersama yang harus dihormati.
Ia menegaskan bahwa seluruh saran, masukan, dan rekomendasi yang lahir selama persidangan harus menjadi perhatian bagi para kepala suku yang telah diberikan mandat.
Menurutnya, masih terdapat sejumlah pekerjaan yang harus segera diselesaikan, termasuk pembahasan mengenai dua suku yang diusulkan dalam forum Mubes.
”Saya berharap jangan ada yang merasa kecewa dengan hasil Mubes ini. Semua keputusan yang diambil adalah keputusan bersama demi kepentingan masyarakat adat Enam Suku Pesisir dan Kepulauan,” tegasnya.
Pada kesempatan tersebut, Socrates Sayori juga mengundang enam kepala suku, Badan Musyawarah, Dewan Adat, dan seluruh unsur lembaga adat untuk berdiri bersama saat secara resmi menutup Mubes.
Dengan mengusung semangat:
”Satu Tanah, Satu Leluhur, Satu Budaya, Satu Tekad, Satu Tujuan, Satu Masa Depan,”
ia menyatakan secara resmi Musyawarah Besar Masyarakat Adat Enam Suku Pesisir dan Kepulauan yang berlangsung sejak 30 Juli hingga 1 Agustus 2026 ditutup.
Apresiasi untuk Para Kepala Suku Sebelumnya

Dalam sambutannya, Socrates Sayori juga memberikan penghormatan kepada para Pelaksana Tugas (Plt/Pjs) Kepala Suku yang selama kurang lebih 15 tahun menjalankan roda organisasi adat hingga akhirnya Mubes pertama dapat terlaksana.
Ia mengakui bahwa pengabdian mereka sangat besar bagi masyarakat adat meskipun belum sempat mendapatkan penghargaan secara khusus dalam forum Mubes.
”Kami menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas pengabdian para pelaksana kepala suku yang telah menjaga dan mengawal masyarakat adat selama bertahun-tahun. Semoga Tuhan dan para leluhur senantiasa memberkati pengabdian Bapak-bapak semua,” katanya.
Kepala Suku Besar Wate : Awal Kebangkitan Masyarakat Pesisir

Sementara itu, mewakili enam kepala suku yang telah ditetapkan, Kepala Suku Besar Wate, Otis Monei, menyampaikan bahwa berakhirnya Mubes bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari kebangkitan masyarakat adat pesisir dan kepulauan.
Ia mengajak seluruh masyarakat untuk tetap menjaga persatuan serta terus hadir dalam setiap agenda adat yang akan dilaksanakan ke depan.
”Ini adalah awal dari kebangkitan masyarakat pesisir. Setelah kembali ke kampung masing-masing, jika ada informasi atau agenda adat, mari kita datang kembali, duduk bersama, dan membangun masyarakat kita. Tuhan dan para leluhur memberkati kita semua,” ujar Otis Monei.
Hasil Mubes Menjadi Pedoman Bersama

Dengan resmi ditutupnya Musyawarah Besar pertama Masyarakat Adat Enam Suku Pesisir dan Kepulauan, seluruh keputusan, rekomendasi, serta program kerja yang telah ditetapkan diharapkan menjadi pedoman bersama dalam memperkuat kelembagaan adat, menjaga persatuan enam suku, serta mendorong pembangunan masyarakat adat pesisir dan kepulauan di Kabupaten Nabire. (RED-GALA MANDIRI)


Leave A Comment