WhatsApp Image 2026-07-26 at 19.21.17

Merawat ‘Miniatur Nusantara’ di Jantung Papua Tengah “Sem Wanimbo” Merajut Damai dari Jalan Sarera

NABIRE –  Puluhan orang warga berkumpul di Jalan Sarera, Kelurahan Kalisemen, Distrik Nabire Barat, pada Minggu (26/7/2026). Suasana hangat terasa ketika tawa dan tegur sapa saling bersahutan. Hari itu, sebuah ruang silaturahmi dibuka lebar di prakarsai oleh Kepala Suku Dani Distrik Nabire Barat, Sem Wanimbo.

Di hadapan sekitar 45 warganya, Sem Wanimbo tidak sedang sekadar berpidato formal. Ia sedang berupaya merajut kembali komitmen menjaga kedamaian di sebuah wilayah yang ia sebut sebagai ‘Miniatur Nusantara’ di Tanah Papua, yakni Nabire.

Nabire memang unik. Di kota ini, perbedaan etnis kadang menjadi pembicaraan yang di hangat perbincangkan dari berbagai sudut pandang, tetapi bagi Sem Wanimbo hal itu bukanlah hal yang justru harus di jadikan  jurang pemisah, melainkan warna yang memperindah kehidupan sehari-hari. Sem Wanimbo menyadari betul aset berharga ini.

“Saya mengimbau kepada seluruh masyarakat Suku Dani untuk senantiasa menjaga kerukunan,” ujar Sem dengan nada berwibawa namun merangkul.

Bagi Sem, hidup berdampingan secara harmonis adalah kunci. Ia mengingatkan warganya untuk terus membuka diri dan menghormati saudara-saudara dari suku Jawa, Bugis, Toraja, Madura, Minahasa, hingga suku-suku Papua lainnya. Karakter Suku Dani yang dikenal ramah, mudah akrab, dan menghormati adat suku lain, diharapkan Sem bisa menjadi kompas moral dan percontohan (role model) bagi kedamaian yang lebih luas di Tanah Papua.

Tantangan menjaga kedamaian hari ini tidak hanya datang dari gesekan fisik, melainkan dari derasnya arus informasi digital. Sadar akan bahaya hoaks dan ujaran kebencian yang kerap memecah belah, Sem punya cara unik untuk mengedukasi warganya.

Sebuah layar disiapkan, memutarkan film dokumenter bertajuk Suara Papua dari Kompas TV edisi Merauke. Lewat tayangan berbasis fakta lapangan ini, Sem mengajak warga melihat pembangunan secara objektif. Ia ingin membentengi masyarakat dari narasi-narasi negatif yang sengaja diembuskan untuk menolak Program Strategis Nasional (PSN).

“Kehadiran PSN dan Pemerintah Indonesia di sini bukan untuk menciderai atau merusak alam dan manusia Papua,” tegas Sem meluruskan misinformasi yang beredar. “Sebaliknya, ini adalah upaya serius pemerintah dalam membangun ketahanan pangan serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dengan tetap menghormati kearifan lokal kita.”

Pertemuan siang itu tidak hanya mengenyangkan nalar dengan edukasi, tetapi juga menyentuh aspek paling mendasar dari kehidupan warga. Sebagai wujud nyata kepedulian dan kehadiran negara, sebuah aksi solidaritas sosial digelar.

Senyum merekah dari wajah para mama dan anak-anak saat bantuan diserahkan secara tepat sasaran. Hari itu, mengalir dukungan konkret bagi keluarga Suku Dani berupa:

35 paket Sembako untuk dapur keluarga.

10 paket alat tulis demi masa depan anak-anak sekolah.

Bantuan dana pembinaan tunai.

Bantuan ini menjadi stimulus kecil yang meringankan beban ekonomi, sekaligus pengingat hangat bahwa masyarakat di akar rumput tidak berjalan sendirian.

Melalui perpaduan pendekatan budaya yang menyentuh hati, edukasi visual yang mencerahkan, dan bantuan ekonomi yang nyata, Sem Wanimbo telah menunjukkan cara strategis menjaga tanah kelahirannya. Di bawah payung adat dan semangat kebangsaan, tokoh adat kini berdiri kokoh sebagai jangkar kedamaian, memastikan masyarakat Nabire tetap bersatu demi kemajuan di Tanah Mutiara Hitam.(red Gala Mandiri)

 

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *