IMG-20260105-WA0011

Harga Telur di Nabire Tembus Rp80 Ribu, Pemda Fokus Perkuat Produksi Lokal

Nabire, Papua Tengah –GALA MANDIRI – Harga telur ayam ras di Kabupaten Nabire masih bertahan pada level tinggi di awal tahun 2026. Keterbatasan produksi, baik dari peternak lokal maupun pasokan antar daerah, menjadi penyebab utama kenaikan harga komoditas pangan strategis tersebut.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Nabire, Viktor Yasor Sawo, menyampaikan bahwa sejak Januari 2026 sejumlah bahan pangan mengalami tekanan pasokan, termasuk telur ayam ras. Penurunan produksi secara menyeluruh berdampak langsung pada ketersediaan barang dan harga jual di pasar.
“Saat ini produksi telur memang menurun. Tidak hanya dari peternak lokal, pasokan dari luar daerah seperti Surabaya juga mengalami penurunan, sehingga harga di tingkat pedagang ikut naik,” kata Viktor.

Di pasaran, harga telur ayam ras tercatat berkisar antara Rp70 ribu hingga Rp80 ribu per rak, tergantung kualitas. Telur dengan kualitas premium atau grade A bahkan semakin sulit ditemukan.
Kondisi ini mendorong masyarakat untuk menyesuaikan pola konsumsi. Dinas Ketahanan Pangan mengimbau agar rumah tangga memanfaatkan alternatif sumber protein lain sebagai pengganti telur.
“Untuk konsumsi sehari-hari, protein bisa dipenuhi dari tahu dan tempe. Namun kami memahami bahwa untuk kebutuhan tertentu seperti usaha kue, telur tetap dibutuhkan,” ujarnya.

Guna menjaga stabilitas pasokan dan harga, Dinas Ketahanan Pangan terus melakukan pemantauan terhadap peternak ayam petelur serta para pedagang telur di pasar-pasar utama, termasuk Pasar Kalibobo. Koordinasi juga dilakukan dengan Dinas Peternakan dan pemasok dari luar daerah.
Selain itu, pemerintah daerah telah menyiapkan langkah penguatan produksi lokal pada tahun 2026 dengan memberikan pendampingan dan tambahan modal kepada peternak ayam petelur di Kampung Wanggar Makmur, Karadiri II, yang dinilai memiliki kapasitas produksi cukup besar.
“Peternak ini akan kami dukung dari sisi permodalan dan distribusi agar produksi bisa ditingkatkan dan hasilnya langsung diserap pasar,” jelas Viktor.


Pemda juga menyoroti kondisi peternak Orang Asli Papua (OAP) di Desa Kimi yang masih mengalami keterbatasan modal dan sarana produksi. Viktor berharap dukungan dana Otsus dapat diarahkan untuk pengadaan bibit ayam petelur, pakan, serta obat-obatan ternak.
Menurutnya, tingginya biaya transportasi telur dari luar daerah turut memicu mahalnya harga di Nabire. Oleh karena itu, peningkatan produksi lokal dinilai sebagai solusi jangka panjang untuk menekan inflasi dan memperkuat ketahanan pangan daerah.
“Jika produksi lokal kuat, ketergantungan pasokan dari luar bisa dikurangi dan harga lebih stabil,” pungkasnya.
(RED-GALA MANDIRI)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *