
Retakan memanjang di tiang penyangga, struktur yang miring, dan beton yang tampak rapuh menjadi pemandangan yang kontras dengan padatnya aktivitas kendaraan dan lalu lalang masyarakat. Setiap hari, sopir angkutan umum, penumpang, pedagang, dan warga sekitar melintas di bawah gapura yang nyaris ambruk itu, seolah bertaruh dengan keselamatan mereka sendiri.
Pantauan GALA MANDIRI pada Jum’at (02/1/2026) menunjukkan kondisi gapura yang semakin memprihatinkan bahkan mengarah membahayakan yang lewat.

Bangunan tersebut tampak tidak lagi kokoh menopang beban strukturnya, tiangnya sudah miring. Dalam situasi cuaca ekstrem yang belakangan kerap melanda Nabire, kekhawatiran akan runtuhnya gapura bukan lagi sekadar dugaan, melainkan ancaman nyata yang bisa terjadi kapan saja.
Sebagai langkah antisipasi, pihak berwenang telah memasang garis polisi di area bawah gapura. Police line itu menjadi penanda bahaya sekaligus peringatan agar warga tidak melintas tepat di bawah bangunan tersebut. Namun, solusi darurat ini dinilai jauh dari ideal. Akses keluar masuk kendaraan menjadi terganggu, sementara potensi bahaya tetap mengintai dari atas.
“Kami setiap hari lewat sini, tapi mau bagaimana lagi, ini jalan utama,” ujar salah seorang sopir angkutan umum dengan nada cemas.

Bagi mereka, Terminal Oyehe bukan sekadar tempat transit, melainkan sumber penghidupan.
Keresahan pun mulai meluas. Masyarakat menilai kondisi gapura yang dibiarkan rusak di fasilitas publik mencerminkan pembiaran terhadap risiko keselamatan. Terminal Oyehe sebagai urat nadi transportasi Kabupaten Nabire seharusnya menjadi area yang aman, bukan lokasi yang menimbulkan rasa was-was.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada kepastian resmi mengenai kapan renovasi atau pembongkaran total gapura akan dilakukan. Publik mempertanyakan koordinasi antar dinas terkait dalam menangani aset daerah yang jelas-jelas sudah tidak layak pakai. Kejelasan anggaran dan jadwal perbaikan pun masih menjadi tanda tanya besar.
Harapan kini tertuju pada Pemerintah Daerah Nabire melalui instansi teknis agar segera mengambil langkah konkret. Masyarakat tidak ingin menunggu hingga insiden terjadi baru kemudian tindakan diambil.
Di tengah denyut kehidupan Terminal Oyehe yang tak pernah berhenti, sebuah pertanyaan terus menggantung di udara: kapan gapura ini akan direnovasi secara menyeluruh, sebelum keselamatan warga benar-benar menjadi korban? (RED-GALA MANDIRI)


Leave A Comment