Danrem 173/PVB Ajak Media Bedah Akar Masalah Papua Lewat Coffee Night di Nabire


Sejak awal diskusi, berbagai isu strategis mengemuka dari para jurnalis. Mulai dari keberadaan dan peran TNI di Papua, pengelolaan Dana Otonomi Khusus (Otsus) yang dinilai belum sepenuhnya berdampak langsung bagi kesejahteraan rakyat, persoalan pertambangan legal dan ilegal, besarnya potensi pariwisata Papua, keberadaan warga negara asing (WNA) di wilayah Nabire dan sekitarnya hingga perjudian seperti sabung ayam dan togel.

“Saya ini mungkin sudah ditakdirkan bertugas di daerah-daerah konflik. Tapi justru dari situ saya belajar bahwa konflik tidak selalu bisa diselesaikan dengan pendekatan kekerasan,” ungkapnya di hadapan para jurnalis.
Brigjen Ketut menegaskan bahwa Papua sejatinya adalah tanah yang diberkahi Tuhan dengan kekayaan alam dan budaya yang luar biasa. Namun, di sisi lain, kekayaan tersebut justru kerap menjadi pemicu lahirnya konflik kepentingan yang berkepanjangan.
“Faktanya, di mana ada emas, di situ pasti ada perebutan. Akhirnya masyarakat kecil yang minim pengetahuan menjadi korban. Mereka diadu domba, disusupi kepentingan, dan diperalat,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memandang masyarakat yang berseberangan dengan negara sebagai musuh. Menurutnya, mereka adalah saudara sebangsa yang perlu dirangkul dan diberi pemahaman.
“Saya tidak marah kepada saudara-saudara kita yang di gunung. Mereka itu saudara kita juga. Yang salah itu kalau kita biarkan mereka terus dalam ketidaktahuan. Mereka perlu disadarkan, bukan dibenci,” tegas Danrem.

Ia mencontohkan berbagai program teritorial seperti membantu pembangunan infrastruktur, pendampingan pertanian, hingga pelayanan sosial di daerah-daerah terpencil yang selama ini sulit dijangkau.
Terkait kebijakan pemerintah pusat, Danrem menyebut penguatan satuan teritorial hingga ke tingkat kabupaten merupakan bagian dari strategi negara untuk memastikan kehadiran negara benar-benar dirasakan oleh masyarakat, terutama di wilayah yang masih tertinggal dari sisi pendidikan dan pembangunan.
Selain persoalan keamanan dan pembangunan, Brigjen Ketut juga menyoroti besarnya potensi pariwisata Papua yang dinilai jauh lebih menjanjikan dan berkelanjutan dibandingkan eksploitasi tambang.
“Kalau di Bali tidak ada tambang, yang ada cuma budaya. Tapi justru dari situlah kesejahteraan masyarakatnya tumbuh. Papua ini jauh lebih kaya. Adatnya ratusan, alamnya luar biasa, lautnya indah, gunungnya megah. Kalau ini dikelola serius, dampaknya akan dirasakan semua orang, dari masyarakat kecil sampai pemerintah daerah,” katanya.
Ia bahkan menyebut bahwa konflik yang terus terjadi di sekitar kawasan tambang sering kali justru menghambat peluang besar Papua untuk berkembang melalui sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Dalam dialog tersebut, Danrem juga menekankan peran strategis media sebagai mitra TNI dan pemerintah dalam membangun Papua melalui informasi yang berimbang dan mencerahkan.
“Media itu ujung tombak informasi. Dari rekan-rekanlah kami tahu kondisi riil di lapangan. Dari situ kami menentukan harus mulai dari mana bergerak untuk Papua,” ujarnya.
Ia berharap melalui forum-forum komunikasi seperti Coffee Night ini, sinergi antara TNI dan insan pers dapat semakin kuat, terutama dalam mengawal pembangunan, menjaga stabilitas, serta menumbuhkan optimisme masyarakat Papua terhadap masa depan yang lebih baik.

Diskusi berlangsung hingga malam hari dengan suasana penuh keakraban, diselingi canda, kopi, dan rokok, namun tetap sarat dengan gagasan dan kepedulian terhadap masa depan Papua.
Kegiatan ini diakhiri dengan sesi dialog terbuka, di mana para jurnalis menyampaikan pandangan, kritik, dan masukan secara langsung kepada Danrem 173/PVB sebagai bagian dari upaya bersama mencari jalan terbaik bagi Papua.(RED-GALA MANDIRI)


Leave A Comment