
Nabire, Papua Tengah – GALA MANDIRIN– Pagi itu, halaman Kantor Pemerintah Daerah Nabire terasa berbeda. Udara masih menyimpan sisa embun, namun barisan Aparatur Sipil Negara sudah berdiri rapi, menyongsong hari kerja pertama di kalender 2026. Tidak sekadar apel rutin, pagi itu menjadi penanda: sebuah awal baru sedang dicanangkan.
Di tengah barisan, Wakil Bupati Nabire, H. Burhanuddin Pawennari, melangkah mantap menuju podium. Ia hadir mewakili Bupati Mesak Magai untuk memimpin Apel Gabungan perdana tahun ini. Wajah-wajah para ASN terlihat serius — sebagian menyimpan harap, sebagian membawa refleksi dari perjalanan panjang tahun sebelumnya.

Dengan suara tenang namun tegas, Burhanuddin membuka sambutan dengan ungkapan syukur. Bukan hanya soal kesehatan fisik, tetapi juga kesiapan batin untuk kembali mengabdi. Baginya, tahun baru bukan sekadar pergantian angka, melainkan kesempatan memperbaiki arah.
“Tahun 2026 harus kita mulai dengan kesadaran baru,” pesannya.
Ia mengajak seluruh peserta apel menengok ke belakang, ke tahun 2025 yang telah dilewati dengan segala dinamika. Ada capaian yang patut dibanggakan, namun tak sedikit pula pekerjaan rumah yang masih menumpuk. Dengan jujur dan terbuka, pemerintah daerah mengakui bahwa masih ada kekurangan — mulai dari birokrasi yang lambat, koordinasi yang belum solid, hingga disiplin kerja yang belum sepenuhnya mencerminkan semangat pelayanan publik.
“Kita tidak boleh menutup mata,” ucapnya saat membacakan sambutan tertulis bupati. “Masih ada hal-hal yang harus kita benahi bersama.”
Kata “bersama” itulah yang berulang kali ditekankan pagi itu.

Bagi Burhanuddin, apel gabungan ini bukan seremoni. Ini adalah momen konsolidasi. Momen untuk menyatukan kembali langkah-langkah yang mungkin sempat berjalan sendiri-sendiri. Ia mengingatkan, pemerintahan tidak bisa dibangun dengan ego sektoral.
“Tidak ada lagi kerja sendiri-sendiri. Semua OPD harus saling menopang, saling menguatkan,” tegasnya.
Sorotannya tajam: pelayanan yang lambat, koordinasi yang lemah, dan sikap tidak profesional harus ditinggalkan. Tahun 2026, kata dia, harus menjadi titik balik. Bukan hanya perubahan program, tetapi perubahan cara berpikir dan cara bekerja.
Namun pagi itu bukan hanya tentang kritik.Pemerintah daerah juga memberi ruang bagi apresiasi. Semangat gotong royong, komitmen terhadap transparansi, dan upaya menjaga budaya kerja yang jujur dan humanis disebut sebagai modal penting yang harus dirawat. ASN diingatkan bahwa mereka adalah wajah pemerintah di mata masyarakat, apa yang mereka lakukan, itulah yang akan dikenang warga.Di barisan peserta apel, beberapa kepala dinas tampak mengangguk pelan. Mungkin merenung. Mungkin menyusun tekad.
Menjelang akhir sambutan, suasana menjadi lebih hangat. Wakil bupati menyampaikan terima kasih atas dedikasi seluruh ASN selama ini. Ia mengajak semua pihak menatap 2026 dengan semangat baru — semangat untuk menghadirkan pemerintahan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Nabire.
Pagi itu, matahari mulai naik lebih tinggi. Barisan pun dibubarkan. Tapi pesan yang tertinggal tidak ikut bubar: tahun ini, tidak boleh biasa-biasa saja.2026 telah dimulai. Dan Nabire, perlahan, sedang menata ulang langkahnya. (RED-GALA MANDIRI)


Leave A Comment