filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; captureOrientation: 0;
module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 128;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;HdrStatus: auto;albedo:  ;confidence:  ;motionLevel: 0;weatherinfo: null;temperature: 43;

Lesu di Tanah Cenderawasih : Ketika Toko Pakaian Sepi dan Warung Makan Menunggu Pelanggan

“Nabire Tak lagi Seramai Dulu”

Nabire, Papua Tengah -GALA MANDIRI – Di salah satu deretan toko pakaian di kota ini, pintu masih terbuka, etalase tetap tertata rapi, namun kursi-kursi di dalam toko lebih sering kosong daripada terisi. Seorang pengusaha pakaian yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidup dari bisnis ini hanya bisa menghela napas panjang sambil memandangi jalanan.
Aktivitas dilorong Pasar Oyehe Nabire

Saat Gala Mandiri dan enagoNews berbincang ditengah cuaca panas siang hari dan angin kencang menerbangkan debu jalanan, ia bertutur :
“Sudah beberapa tahun ini bisnis pakaian lesu. Pendapatan bukan hanya menurun, tapi turun sangat drastis,” katanya pelan saat ditemui.
Yang membuatnya semakin terpukul, penurunan itu bukan hanya terjadi di hari-hari biasa. Bahkan momen yang dulu selalu jadi “musim panen” — Natal dan Tahun Baru — kini tak lagi menjanjikan. Pembeli tetap datang, tapi jumlahnya jauh dari harapan. Banyak yang hanya melihat-lihat, lalu pergi tanpa membeli.

Ia tak menyebutkan secara pasti apa penyebab utama kondisi ini. Namun satu hal yang ia rasakan betul: modal terus tergerus, sementara harga barang terus merangkak naik.

“Sekarang ini bagaimana mau berpikir menaikkan gaji karyawan, sementara untuk bertahan saja masih sulit,” ujarnya lirih.
Ketika ditanya soal perubahan pola belanja masyarakat yang mulai beralih ke online dan kebijakan efisiensi anggaran, ia hanya tersenyum tipis.
“Kalau persaingan dagang itu biasa. Kami juga tidak memungkiri sekarang banyak yang belanja online,” katanya singkat.
Keluhan serupa terdengar di Pasar Oyehe. Seorang pedagang pakaian mengenang masa-masa ketika uang Rp50 juta bisa mendatangkan stok barang hingga bernilai ratusan juta rupiah.

“Dulu kita belanja bawa Rp.50 juta, itu bisa jadi barang Rp.200 juta. Sekarang bawa Rp50 juta, ya cuma dapat barang segitu saja,” katanya.

Tak jauh dari sana, di sebuah kios sembako, keluhan yang sama juga terdengar. Seorang pedagang mengaku tahun ini jauh lebih sepi dibanding tahun lalu.
“Tahun lalu menjelang Natal dan Tahun Baru, pesanan minuman sangat banyak. Tapi tahun ini tidak ada, satu pun yang pesan,” ujarnya sambil menggeleng pelan.
Bukan hanya pedagang pakaian dan sembako yang merasakan sepinya perputaran uang. Di kawasan Kota Lama Nabire, seorang pedagang kuliner juga mengalami hal yang sama. Menjelang Natal dan Tahun Baru, ia sengaja tetap membuka lapaknya saat banyak pedagang lain memilih tutup.
“Kami pikir, mungkin orang-orang yang biasa makan di luar akan datang ke sini,” tuturnya penuh harap.
Namun kenyataan jauh dari dugaan. “Jangankan ramai, hampir tidak ada yang mampir,” katanya sambil menarik napas panjang.
Menurutnya, kondisi ini sangat berbeda dengan Natal 2024 dan Tahun Baru 2025, ketika lapaknya masih dipenuhi pelanggan. Kini, bertahan hidup saja sudah dianggap sebagai keberuntungan.
“Sekarang ini bisa bertahan saja sudah sangat baik. Mudah-mudahan kondisi ini segera membaik dan pendapatan kembali normal, bahkan meningkat,” pungkasnya.
Di tengah toko-toko yang tetap buka dan warung-warung yang tetap menyalakan kompor, Nabire hari-hari ini seperti sedang menunggu: menunggu pembeli kembali datang, menunggu roda ekonomi kembali berputar, dan menunggu harapan yang sempat meredup untuk kembali menyala. (RED-GALA MANDIRI)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *