IMG_20260314_012853_942

Dugaan Keracunan Makanan Program MBG di Nabire : 7 Orang Terdiri Dari 3 Guru dan 4 Murid di Rawat Rumah Sakit

Nabire, Papua Tengah– GALA MANDIRI – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lani di Distrik Teluk Kimi, Kabupaten Nabire, tengah menjadi sorotan.

Sebanyak tujuh orang yang terdiri 3 orang Guru dan 4 orang Murid murit dari beberapa sekolah, dilaporkan harus menjalani perawatan medis, setelah diduga mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi makanan dari program tersebut.
Hingga saat ini, para korban tersebar di beberapa fasilitas kesehatan: satu orang di RSUD Nabire, satu orang di Klinik Gresli, dan lima lainnya di Klinik Rihensha.
Seluruh pasien mengeluhkan gejala serupa, yakni diare, muntah, dan pusing.
Dalam klarifikasinya, Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Nabire, Marcel Asyerem, menjelaskan, keluhan mulai muncul pada Rabu lalu, sesaat setelah layanan di Kampung Lani dimulai.


Meski beberapa guru merasakan gejala sejak hari pertama, laporan tidak langsung masuk ke penyelenggara karena kekhawatiran akan menimbulkan kesalahpahaman terhadap program yang melayani 17 sekolah (1.892 penerima manfaat) ini.
“Informasi baru kami ketahui setelah para pasien mendatangi klinik secara terpisah,” ujar Marcel.


Berdasarkan diagnosa sementara dokter, para pasien diduga terpapar Bakteri yang menyerang sistem imun.
Dari menu yang disajikan saat itu (nasi, telur ceplok, sayur, dan saus), kecurigaan terbesar mengarah pada saus pelengkap.
Namun, pembuktian laboratorium menemui kendala teknis, Karena laporan baru masuk dua hari setelah kejadian, sampel makanan pada hari tersebut sudah dibuang sesuai prosedur penyimpanan rutin (diganti sampel baru). Kini, tim medis mengandalkan analisis cairan muntah untuk memastikan penyebab pastinya.
Selain potensi kontaminasi bahan, pihak SPPG menyoroti beberapa faktor luar yang kemungkinan juga berpengaruh:
Makanan Dibawa Pulang: Ditemukan kasus makanan dikonsumsi di rumah, padahal makanan basah berisiko cepat basi.Waktu Konsumsi: Makanan dimasak sejak pukul 04.00 WIT. Keterlambatan konsumsi dapat menurunkan kualitas hidangan.
Daya Tahan Tubuh: Perbedaan kondisi fisik membuat tidak
semua konsumen mengalami gejala meski memakan menu yang sama.

Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (Korwil BGN)  Nabire menyatakan tanggung jawab penuh atas kesembuhan korban dan berkomitmen melakukan perbaikan total, seperti pengetatan higienitas dapur dan evaluasi bahan tambahan (saus).
Optimalisasi peran PIC MBG di setiap sekolah untuk pengawasan distribusi.
Penegasan prosedur ganti rugi makanan: jika ditemukan makanan tak layak, sekolah wajib melapor dengan bukti foto agar segera diganti oleh pihak dapur.
Pihak penyelenggara memastikan evaluasi ini menjadi prioritas utama agar program penguatan gizi nasional ini tetap berjalan aman dan bermanfaat bagi masyarakat Papua Tengah.(RED-GALA MANDIRI)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *