Nabire, Papua Tengah – GALA MANDIRI – Badan Pengurus Pusat Himpunan Petani Hidup Nyata (BPP HIPETA) Provinsi Papua Tengah melakukan kunjungan silaturahmi ke Yonif TP 804/Dharma Bakti Asasta Yudha (DBAY), Brigif TP 82/Wuyou Karako Bidao, Kodam XVII/Cenderawasih, Jumat (20/2/2026).
Rombongan BPP HIPETA Papua Tengah diterima langsung oleh Komandan Yonif TP 804/DBAY, Letkol Inf Okto Hutabri Tanimba, S.H., M.H.I., di ruang data satuan tersebut.

Kristovel menjelaskan, HIPETA hadir sebagai wadah konsolidasi petani dengan pendekatan pemberdayaan berbasis kelompok. Setiap kelompok, kata dia, beranggotakan 15 orang yang bertanggung jawab mengelola komoditas tertentu secara bersama-sama.

“Kami membangun pola pikir petani agar mampu berproduksi dari tingkat rumah tangga. Ada kelompok tanaman hias, pisang, hortikultura, padi, jagung, hingga sagu. Semua anggota kelompok bertanggung jawab terhadap komoditas yang dikelola,” ujarnya.
Ia menilai selama ini berbagai bantuan pemerintah untuk sektor pertanian belum sepenuhnya optimal karena minim pendampingan dan pengawasan. Akibatnya, sejumlah bantuan alat dan sarana produksi tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya, bahkan ada yang disewakan kembali dengan harga tinggi.
Menurut Kristovel, yang dibutuhkan petani bukan sekadar bantuan, tetapi pendampingan berkelanjutan agar produksi dan distribusi berjalan stabil serta menguntungkan petani.
“Kami minta dinas terkait melakukan pendampingan agar bantuan tidak disalahgunakan. Cukup biaya operasional seperti BBM dan upah kerja sesuai standar, supaya harga komoditas tidak melonjak dan petani tetap mendapat keuntungan,” tegasnya.
Ia memaparkan, dari total sekitar 678 hektare lahan sawah yang ada, baru sekitar 60 persen yang produktif. Untuk komoditas yang tergabung dalam HIPETA saat ini, tercatat padi seluas 60 hektare, jagung 105 hektare, nanas 20 hektare, dan sagu sekitar 300 hektare. Selain itu, HIPETA juga melakukan pendataan sektor perikanan dan komoditas hortikultura lainnya.
BPP HIPETA juga telah menjalin kerja sama dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk sertifikasi lahan pertanian, guna memberikan kepastian hukum sekaligus memudahkan petani dalam mengakses pembiayaan perbankan.
Kristovel menambahkan, semangat utama yang ingin dijaga adalah kemandirian pangan daerah. Ia berharap Nabire ke depan mampu memproduksi beras, telur, ikan, dan komoditas lainnya secara mandiri tanpa ketergantungan dari luar daerah.
Dalam kesempatan itu, HIPETA juga menyampaikan harapan adanya kolaborasi dengan TNI, sejalan dengan program ketahanan pangan yang selama ini digalakkan. Menurutnya, sinergi antara organisasi petani dan TNI dapat memperkuat pendampingan, pengawasan, serta optimalisasi lahan tidur agar kembali produktif.
“Kami ingin Nabire punya beras sendiri, punya telur sendiri, punya ikan sendiri. Semangat petani ini harus dijaga. Kami siap bekerja, yang kami butuhkan adalah dukungan sarana dan pendampingan yang berkelanjutan,” pungkasnya.

Pertemuan tersebut diharapkan menjadi langkah awal terbangunnya kerja sama strategis antara HIPETA dan jajaran TNI dalam mendukung ketahanan pangan serta peningkatan kesejahteraan petani di Papua Tengah.

Penasehat Badan Pengurus Pusat Himpunan Petani Papua Tengah (BPP HIPETA) Papua Tengah, Herman Sayori, menegaskan bahwa kehadiran HIPETA merupakan jawaban atas kebutuhan masyarakat Papua, khususnya Papua Tengah, dalam pengembangan sektor pertanian, peternakan, perkebunan, dan perikanan.
Menurutnya, meski memiliki semangat besar dalam memberdayakan petani, HIPETA masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama keterbatasan anggaran dan pendampingan teknis di lapangan. Karena itu, ia berharap terjalin sinergi yang kuat dan terarah antara HIPETA dan Yonif TP 804/DBAY dalam menjalankan program-program strategis bidang pertanian.
Herman menjelaskan, HIPETA mendorong penguatan kelompok tani berbasis komunitas, dengan sistem tanggung jawab bersama dalam satu kelompok yang beranggotakan sekitar 15 orang. Pola ini diterapkan untuk memastikan produksi berjalan terkontrol dan berkelanjutan, mulai dari tanaman pangan seperti padi dan jagung, hingga komoditas hortikultura dan perikanan.

Bendahara BPP HIPETA Papua Tengah, Merry C. Yoweni, menyampaikan bahwa pihaknya telah menyalurkan lahan bersertifikat kepada 541 orang masyarakat di kawasan Pantai Joropi.
Program ini merupakan hasil kerja sama HIPETA melalui KITETA dengan BPN untuk sertifikasi lahan masyarakat sekaligus pengembangan kawasan transmigrasi produktif. Setiap penerima mendapatkan satu hektare lahan dengan dua sertifikat, yakni untuk perumahan dan lahan usaha.
Merry menjelaskan, lahan usaha tersebut diarahkan untuk pengembangan pertanian dan perkebunan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta menekan angka pengangguran, khususnya di kalangan anak muda.



Leave A Comment