

Nabire, Papua Tengah –GALA MANDIRI – Suasana penuh kekeluargaan menyelimuti Sekretariat Satria Sunda Sakti (S3) di Jalan Kasuari, Siriwini, Minggu (18/1/2026). Warga Sunda yang tersebar di berbagai wilayah Nabire berkumpul untuk memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah / 2026 Masehi.

Peringatan perjalanan spiritual Rasulullah SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina hingga ke Sidratul Muntaha itu tidak hanya menjadi momentum religius, tetapi juga ajang mempererat silaturahmi warga Sunda di tanah Papua Tengah.


Acara berlangsung sederhana namun khidmat. Lantunan qasidah dan sholawat, termasuk pembacaan Syair Barzanji, menggema mengiringi rangkaian peringatan Isra Mi’raj, menciptakan suasana religius yang hangat dan menenangkan.

Dalam sambutannya, Ketua S3 Papua Tengah H. Doris Datang Suryana mengungkapkan rasa bangganya atas antusiasme warga Sunda yang hadir. Menurutnya, kebersamaan seperti inilah yang menjadi modal utama untuk memperkuat persaudaraan di tanah rantau.
Ia juga menyinggung keberadaan dua organisasi Sunda di Papua Tengah, yakni Paguyuban Pasundan 1913 dan Satria Sunda Sakti (S3). Doris menegaskan, sudah saatnya warga Sunda memiliki satu wadah organisasi yang mampu menyatukan seluruh potensi dan aspirasi.

“Perlu ada satu organisasi warga Sunda yang benar-benar bisa menjadi rumah besar kita bersama, yang menyatukan, bukan memisahkan,” ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua DPW Paguyuban Pasundan 1913 Papua Tengah, Tabroni M. Cahya, menjelaskan bahwa pemerintah provinsi saat ini mendorong agar setiap suku memiliki satu organisasi yang dipimpin oleh kepala suku atau tokoh yang mewakili.
“Ini berawal dari instruksi Gubernur Papua Tengah. Soal nama apakah kepala suku atau ketua organisasi, itu masih digodok oleh Pemprov,” jelas Tabroni.
Ia mengajak seluruh warga Sunda untuk tidak terjebak pada sekat-sekat organisasi. Menurutnya, yang terpenting adalah semangat kebersamaan dan partisipasi aktif dalam setiap kegiatan.
“Tidak perlu melihat itu Pasundan 1913 atau Satria Sunda Sakti. Kalau merasa warga Sunda, mari hadir dan berpartisipasi,” ajaknya.
Tabroni juga menekankan pentingnya dukungan terhadap program pemerintah, baik di tingkat pusat, provinsi, maupun kabupaten.
“Tanpa kolaborasi dan dukungan dengan pemerintah daerah, mustahil organisasi ini bisa berjalan dan tetap eksis,” tegasnya.


Peringatan Isra Mi’raj kali ini pun menjadi lebih dari sekadar acara keagamaan. Di balik kesederhanaannya, terselip pesan kuat tentang persatuan, kebersamaan, dan tekad warga Sunda di Nabire untuk terus berkontribusi bagi daerah dan menjaga harmoni di tengah keberagaman Papua Tengah. (RED-GALA MANDIRI)


Leave A Comment