NABIRE, PAPUA TENGAH | GALA MANDIRI – Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-69 Jam’iyyah Ahli Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) di Provinsi Papua Tengah menjadi momentum penting untuk memperkuat eksistensi organisasi, memperluas pemahaman masyarakat tentang ajaran tarekat, sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda Nahdlatul Ulama (NU) dalam melanjutkan tradisi spiritual para ulama. 
Kegiatan yang berlangsung pada Ahad pagi (11/10/2026) tersebut tidak hanya menjadi ajang memperingati perjalanan organisasi, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengevaluasi peran JATMAN dalam membina kehidupan keagamaan masyarakat, khususnya melalui pengamalan ajaran tarekat yang berlandaskan tuntunan para ulama.

Rais Idarah Wustha JATMAN Papua Tengah, Kiai Muh. Ikhsan Abdul Channan, dalam sambutannya menekankan pentingnya menjadikan Harlah ke-69 sebagai titik penguatan organisasi agar semakin dikenal masyarakat, memiliki solidaritas yang kuat, serta terus istiqamah dalam menjalankan amaliyah tarekat.
Menurutnya, JATMAN sebagai salah satu badan otonom Nahdlatul Ulama memiliki peran penting dalam menjaga dan meneruskan tradisi keilmuan serta spiritualitas Islam yang diwariskan para ulama. Karena itu, keberadaan organisasi tersebut perlu terus diperkuat agar dapat menjangkau lebih banyak kalangan, termasuk generasi muda.
“Dengan momentum Harlah JATMAN ke-69 ini, semoga JATMAN lebih dikenal lagi di masyarakat, lebih kompak, dan bisa istiqamah dalam amaliyah tarekat,” ujar Kiai Ikhsan.
Ia menjelaskan, salah satu tantangan yang dihadapi JATMAN saat ini adalah kondisi sebagian besar anggotanya yang berasal dari kalangan lanjut usia. Faktor usia dan keterbatasan fisik menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesinambungan aktivitas organisasi maupun keberlangsungan pengamalan tarekat pada masa mendatang.
“JATMAN adalah salah satu badan otonom NU yang notabene anggotanya mayoritas golongan tua, yang secara fisik sudah lemah,” katanya.
Meski demikian, Kiai Ikhsan menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak boleh menjadi penghalang bagi keberlanjutan perjuangan organisasi. Sebaliknya, keadaan itu harus menjadi dorongan bagi seluruh jajaran pengurus untuk menyiapkan generasi penerus yang mampu melanjutkan amaliyah dan tradisi spiritual yang selama ini dijaga oleh para ulama dan pengamal tarekat.

Ia berharap keterlibatan dalam tarekat tidak hanya didominasi oleh kalangan lanjut usia. Generasi muda NU juga perlu diberikan ruang, pemahaman, serta kesempatan untuk mengenal dan mendalami ajaran tarekat secara benar.
Menurutnya, keikutsertaan anak muda sangat penting untuk memastikan tradisi keagamaan tersebut tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman. Dengan demikian, proses pewarisan nilai-nilai spiritual, akhlak, dan keteladanan para ulama dapat berlangsung secara berkesinambungan.
Kiai Ikhsan berharap generasi muda NU dapat mengambil bagian dalam perjuangan tersebut, sehingga keberadaan JATMAN tidak hanya bertumpu pada pengabdian generasi terdahulu, tetapi juga tumbuh melalui keterlibatan generasi penerus.
JATMAN Hadapi Tantangan Pemahaman Masyarakat

Selain menyoroti pentingnya regenerasi, Kiai Ikhsan juga mengungkapkan bahwa upaya memasyarakatkan pemahaman tentang tarekat masih menjadi tantangan tersendiri bagi JATMAN di Papua Tengah.
Menurutnya, pemahaman sebagian masyarakat mengenai tarekat masih terbatas. Bahkan, terdapat pandangan negatif yang berkembang akibat kurangnya pengetahuan tentang dasar keilmuan, tujuan, serta praktik pengamalan tarekat yang benar.
Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi jajaran pengurus JATMAN, baik di tingkat Idarah Wustha maupun Idarah Syu’biyyah, untuk meningkatkan edukasi dan memberikan pemahaman yang tepat kepada masyarakat dari berbagai latar belakang.
“Kurangnya pemahaman tarekat di masyarakat merupakan sebuah tantangan bagi Idarah Wustha maupun Idarah Syu’biyyah untuk bisa lebih memasyarakatkan tarekat di semua kalangan,” ungkapnya.
Ia menilai, masih adanya anggapan bahwa tarekat merupakan ajaran yang menyimpang menunjukkan perlunya dialog, edukasi, dan penguatan literasi keagamaan. Menurutnya, pandangan semacam itu terkadang muncul bukan karena pemahaman yang mendalam, melainkan akibat kurangnya pengetahuan mengenai ilmu tarekat.
Bahkan, kata dia, pandangan negatif terhadap tarekat tidak hanya ditemukan di kalangan masyarakat awam, tetapi juga di sebagian kalangan intelektual Islam yang belum mempelajari ilmu tersebut secara mendalam.
“Karena selama ini aliran tarekat dianggap sebagai aliran sesat, tidak hanya di kalangan orang-orang awam, namun di kalangan para intelektual Islam yang tidak belajar tarekat menganggap tarekat adalah aliran sesat,” ujarnya.
Oleh karena itu, Kiai Ikhsan berharap JATMAN dapat mengambil peran lebih aktif dalam memberikan pemahaman yang utuh kepada masyarakat. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan keagamaan, pengajian, pembinaan umat, serta komunikasi yang terbuka agar masyarakat memiliki kesempatan untuk mengenal tarekat berdasarkan pengetahuan yang memadai.
Ia menegaskan, keberadaan JATMAN di bawah naungan Nahdlatul Ulama diharapkan mampu menjadi penghubung antara ilmu tarekat dan kehidupan umat. Dengan adanya wadah organisasi yang jelas, masyarakat diharapkan dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik dan tidak lagi merasa khawatir untuk mendalami ajaran tarekat.
“Semoga dengan adanya wadah tarekat di bawah naungan JATMAN NU bisa menjadi jembatan antara ilmu tarekat dan umat, sehingga ke depan orang tidak takut lagi untuk bertarekat,” kata Kiai Ikhsan.
Harapan tersebut sekaligus menjadi dorongan bagi seluruh pengurus JATMAN di Papua Tengah untuk terus memperkuat pembinaan internal dan memperluas jangkauan dakwah. Dengan demikian, organisasi tidak hanya berperan menjaga tradisi spiritual, tetapi juga ikut membangun kehidupan keagamaan masyarakat yang lebih terbuka, berpengetahuan, dan berlandaskan tuntunan ulama.
Tasyakuran Sekretariat Baru PWNU Papua Tengah

Peringatan Harlah ke-69 JATMAN Papua Tengah tersebut juga dirangkaikan dengan tasyakuran sekretariat baru Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Papua Tengah yang berlokasi di Jalan Poros Sarera, Kalisemen, Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire.
Kehadiran sekretariat baru ini diharapkan menjadi langkah penting dalam memperkuat konsolidasi organisasi serta mendukung pelaksanaan berbagai program keagamaan dan sosial kemasyarakatan di wilayah Papua Tengah.
Sekretariat tersebut diharapkan dapat menjadi pusat koordinasi pengurus, tempat berlangsungnya kegiatan administrasi organisasi, sekaligus ruang untuk mempererat komunikasi dan kebersamaan di antara warga Nahdlatul Ulama.
Kiai Muh. Ikhsan Abdul Channan, yang juga menjabat sebagai Rais Syuriah PWNU Papua Tengah, menyampaikan harapannya agar keberadaan sekretariat baru dapat memberikan dorongan positif bagi perkembangan NU di tingkat provinsi maupun kabupaten.
Menurutnya, penguatan kelembagaan merupakan salah satu aspek penting dalam mendukung keberlangsungan organisasi. Dengan adanya tempat yang dapat digunakan untuk menunjang aktivitas kepengurusan, berbagai agenda pembinaan umat dan pengembangan organisasi diharapkan dapat berjalan lebih terarah.
“Selain Harlah JATMAN, juga mengadakan tasyakuran sekretariat baru PWNU Papua Tengah yang beralamat di Jalan Poros Sarera, Kalisemen, Nabire Barat, Kabupaten Nabire,” ujarnya.
Ia juga berharap kepengurusan definitif pertama PWNU Papua Tengah dapat menjalankan amanah organisasi dengan baik, memperkuat persatuan warga NU, serta menghadirkan program-program yang bermanfaat bagi masyarakat.
Keberadaan kepengurusan definitif tersebut dinilai menjadi kesempatan untuk membangun fondasi organisasi yang lebih kuat, meningkatkan koordinasi antarpengurus, serta memperluas kontribusi NU dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Papua Tengah.
“Semoga dengan adanya pengurus definitif pertama PWNU Papua Tengah dapat lebih memajukan NU di Papua Tengah umumnya dan Nabire khususnya,” pungkas Kiai Ikhsan.
Melalui peringatan Harlah ke-69 JATMAN yang dirangkaikan dengan tasyakuran sekretariat baru PWNU Papua Tengah, diharapkan semangat menjaga tradisi keilmuan, memperkuat amaliyah tarekat, dan membangun regenerasi ulama dapat terus tumbuh.
Momentum ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keberlanjutan organisasi keagamaan membutuhkan keterlibatan seluruh generasi. Para sesepuh tetap menjadi sumber ilmu dan keteladanan, sementara generasi muda diharapkan hadir sebagai penerus yang mampu menjaga nilai-nilai keislaman dan mengembangkannya sesuai kebutuhan masyarakat, tanpa meninggalkan tuntunan para ulama. (RED-GALA MANDIRI)


Leave A Comment