NABIRE — Kondisi keamanan di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, dilaporkan terus memburuk dan berada dalam situasi tidak aman yang berkepanjangan sejak tahun 2019 hingga saat ini. Rentetan konflik bersenjata terus memakan korban jiwa, baik dari kalangan warga sipil, aparat TNI-Polri, maupun anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Wakil Ketua I Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Intan Jaya, Titus Kobogau, S.Th., usai rapat rancangan pertanggung Jawaban pelaksanaan APBD 2025 pada 13 juli kemarin, kepada redaksi Gala Mandiri mengungkapkan keprihatinan mendalam atas situasi terakhir di wilayahnya yang kian mencekam.

Titus Kobogau membeberkan bahwa baru-baru ini pihak legislatif bersama eksekutif turun langsung ke lapangan, setelah menerima laporan dari seorang tukang ojek mengenai penemuan jenazah warga bernama Oto Tigau.
“Baru sepekan kemarin saya sebagai Wakil Ketua Satu DPRK, Bupati, Wakil Bupati, serta beberapa kepala OPD, menyaksikan dan sekaligus ikut mengevakuasi langsung salah satu korban tewas di Sugapa bernama Oto Tigau,” ujar Titus. Jenazah Oto ditemukan tepat di bagian belakang Pos TNI di Sugapa, Intan Jaya, dengan kondisi tubuh penuh luka-luka.
Sebelum insiden tersebut, seorang warga yang berprofesi sebagai hamba Tuhan atau Gembala Jemaat juga dilaporkan tewas. Tak lama setelah tewasnya Oto Tigau, insiden berdarah kembali terjadi pada Kamis malam, 2 Juli, seorang ibu hamil tewas di dalam rumahnya akibat terkena peluru nyasar.

Duduk Perkara Aksi Lepas Kancing Baju Dinas Bupati
Menanggapi video dan informasi yang beredar luas di media sosial terkait aksi Bupati Intan Jaya yang melepas kancing baju dinasnya saat berada di lokasi penemuan mayat, Titus Kobogau memberikan klarifikasi tegas. Ia membantah narasi netizen yang menuduh Bupati membela kelompok TPN-OPM.
Titus menjelaskan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk spontanitas kekecewaan mendalam seorang kepala daerah yang merasa kewibawaannya tidak dihargai oleh aparat di lapangan.
Sebelum Oto Tigau ditemukan tewas, Bupati telah berinisiatif menyampaikan pada pos keamanan bahwa Oto Tigau adalah warga sipil murni yang datang ke Sugapa untuk mengurus KTP elektronik (E-KTP). Bupati juga menyampaikan, jika Oto terbukti melanggar hukum atau terlibat OPM, maka prosesnya harus diserahkan kepada pihak kepolisian sesuai aturan hukum yang berlaku.
“Tapi kenyataannya, beberapa hari kemudian Oto Tigau ditemukan sudah tidak bernyawa. Hal inilah membuat Bupati merasa benar-benar tidak dihargai sebagai kepala daerah dan perpanjangan tangan pemerintah pusat di Intan Jaya. Penyampaian beliau seakan-akan tidak diindahkan,” tegas Titus. Ia menambahkan bahwa Bupati berada pada posisi murni membela rakyatnya.
Di sisi lain, pihak TNI dalam keterangan resminya mengklaim terkait insiden tewasnya Oto Tigau. Perwakilan TNI menyatakan Oto Tigau beserta beberapa rekannya terpaksa ditembak karena diduga mencoba melakukan aksi penyerangan terhadap Pos TNI setempat pada malam hari.

Sebagai representasi wakil rakyat, Titus Kobogau meminta seluruh pihak yang bertikai di Intan Jaya, untuk dapat menahan diri guna memutus rantai kekerasan dan kematian yang terus menghantui warga sipil.
Ia meminta agar setiap riak konflik dan persoalan hukum yang berhubungan dengan warga yag benar benar merupaka masyarakat sipil, agar diselesaikan melalui jalur yang bermoral dan sesuai dengan prosedur hukum formal yang berlaku di Indonesia, bukan melalui tindakan kekerasan di lapangan.(red Gala Mandiri)


Leave A Comment