

“Pengasuh dan Pemerintah Tekankan Peran Pesantren dalam Membangun Generasi Berakhlak dan Daerah yang Damai”
Nabire, Papua Tengah–GALA MANDIRI – Pondok Pesantren Al-Falah SP2 Kalisemen, Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah, menggelar Haflah Akhirussanah Wa Ikhtitamuddurus pada Minggu (01/02/2026).
Kegiatan ini berlangsung khidmat dan penuh makna, dihadiri para santri dan santriwati, wali santri, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta perwakilan pemerintah daerah.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, Muhammad Ihsan, dalam sambutannya menegaskan bahwa Haflah Akhirussanah bukan sekadar seremoni penutup tahun ajaran, melainkan tradisi pesantren yang sarat nilai introspeksi, evaluasi, dan motivasi dalam membentuk karakter santri.
“Haflah Akhirussanah memiliki satu tujuan utama, yaitu menjadikan putra-putri kita sebagai anak-anak yang saleh dan salehah. Di sinilah kita mengevaluasi apa yang kurang, memperbaiki yang belum baik, serta mempertahankan hal-hal yang sudah baik,” ujarnya.


Ia menyampaikan bahwa selama satu tahun para santri menjalani pendidikan dengan disiplin tinggi di pesantren, yang diibaratkannya sebagai “penjara kebaikan”. Momentum Haflah Akhirussanah menjadi saat para santri mengekspresikan kegembiraan, bukan untuk menuntut materi, melainkan mengharapkan dukungan dan keikhlasan orang tua.
“Anak-anak kita sedang mengemban misi yang sangat mulia, bukan misi biasa, tetapi misi yang akan menghantarkan kita semua ke hadirat Allah SWT. Karena itu, saya memohon kepada para wali santri untuk ikhlas mendukung perjuangan mereka,” kata Muhammad Ihsan.

Ia mengutip hadis Rasulullah SAW, “Man yuridillāhu khairan yufaqqihhu fiddīn”, yang menegaskan bahwa siapa yang dikehendaki Allah menjadi baik, maka akan diberi pemahaman dalam ilmu agama. Menurutnya, tekad santri yang kuat harus diiringi dukungan penuh dari orang tua agar tujuan membentuk generasi saleh-salehah dapat tercapai secara utuh.


Lebih lanjut, Muhammad Ihsan juga mengingatkan bahwa cobaan hidup merupakan tanda kasih sayang Allah SWT. Ia mengutip pesan para ulama bahwa orang yang tidak pernah diuji justru patut khawatir, karena ujian adalah jalan menuju keberhasilan sejati.
“Jangan kita bangga ketika tidak mendapatkan cobaan. Justru kita harus bangga ketika Allah SWT menguji kita, karena itu tanda kita akan berhasil pada hari-hari berikutnya,” tuturnya.
Pada kesempatan tersebut, Muhammad Ihsan menyampaikan rasa bangga atas kehadiran berbagai unsur, mulai dari Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), hingga tokoh-tokoh masyarakat. Ia menekankan pentingnya persatuan antara ulama dan umara dalam membangun daerah.
Mengutip pandangan Imam Al-Ghazali, ia menegaskan bahwa jika ulama dan pemerintah bersatu, maka suatu daerah akan menjadi aman, tenteram, dan masyarakatnya hidup bahagia. Sebaliknya, perpecahan hanya akan melahirkan kegagalan.

Sementara itu, Bupati Nabire Mesak Magai, S.Sos., M.Si, melalui sambutan tertulis yang dibacakan Asisten II Setda Kabupaten Nabire, La Halim, S.Sos, menyampaikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya Haflah Akhirussanah tersebut.
Menurut Bupati, kegiatan ini bukan hanya menandai berakhirnya proses pembelajaran, tetapi juga menjadi bukti nyata kesungguhan, ketekunan, dan kesabaran para santri dalam menuntut ilmu agama sekaligus ilmu kehidupan.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Nabire, saya menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada pimpinan Pondok Pesantren Al-Falah serta para ustaz dan ustazah yang dengan penuh keikhlasan telah mendidik dan membina santri menjadi generasi yang beriman, berilmu, berakhlak karimah, dan memiliki kepedulian sosial,” ujarnya.
Bupati menegaskan bahwa program pemerintah dalam bidang pendidikan menitikberatkan pada pendidikan karakter, dan nilai-nilai tersebut secara nyata telah lama dipraktikkan di pondok pesantren.
“Ilmu tanpa adab akan melahirkan manusia yang pincang. Di pesantren inilah pendidikan karakter benar-benar diterapkan secara nyata, bukan hanya teori,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan para santri agar ilmu yang diperoleh tidak hanya dihafal, tetapi diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, serta menjadi teladan di tengah masyarakat yang majemuk seperti Kabupaten Nabire.
Bupati menyebut Nabire sebagai miniatur Indonesia, karena dihuni berbagai suku, budaya, dan agama. Oleh karena itu, santri diharapkan mampu menjadi agen perdamaian, menjaga persatuan, dan mendukung program pemerintah dalam menciptakan daerah yang aman, nyaman, dan damai.
Menurutnya, stabilitas dan ketenteraman yang selama ini dirasakan masyarakat Nabire tidak lepas dari doa para kiai, ulama, dan santri yang terus dilantunkan tanpa pamrih.
“Keamanan dan kedamaian yang kita rasakan hari ini bukan semata karena kekuatan aparat, tetapi juga berkat doa-doa para ulama dan santri. Sejarah mencatat bahwa perjuangan bangsa ini tidak lepas dari peran besar para kiai dan santri,” ujarnya.
Menutup sambutan, Bupati mengajak para wali santri untuk terus bersinergi dengan pesantren dalam mendidik anak-anak, sehingga nilai-nilai yang ditanamkan di pondok dapat dilanjutkan dan diperkuat di lingkungan keluarga.
Kegiatan Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Al-Falah ini diharapkan menjadi momentum penguatan komitmen bersama antara pesantren, orang tua, dan pemerintah dalam mencetak generasi muda yang religius, berakhlak mulia, serta mampu menjaga persatuan dan kedamaian di Tanah Papua dan Indonesia secara Damai.

Hadirkan Ketua Syariyyah PWNU Papua Tengah Sebagai Penceramah
Haflah akhirussanah dan Ikhtitamudurus menghadirkan Ketua PWNU Provinsi Papua Tengah KH.Hasyim Asy’ari sebagai penceramah agama.

Acara juga dihadiri tokoh penting seperti Ketua MUI Provinsi Papua Tengah K.Muhammad Rofiq, Ketua dan Skretaris PCNU Kabupaten Nabire Agus Suprayitno dan M.Thohir, Ketua Baznas Kabupaten Nabire, sejumlah Pengasuh Pondok Pesantren, Ketua Organisasi Islam, Ketua Muslimat Hj.Qomariyah, Ketua Fatayat, serta tokoh agama lainya. (RED-GALA MANDIRI)


Leave A Comment