
Nabire, Papua Tengah -GALA MANDIRI – Sore itu, diujung barat Nabire, langit Distrik Yaur tampak lebih cerah dari biasanya. Matahari perlahan turun ke balik perbukitan, menyisakan semburat jingga yang memantul di badan jalan berdebu yang selama ini menjadi saksi sulitnya akses energi di wilayah pinggiran Kabupaten Nabire, Papua Tengah. Di tengah suasana itulah, sebuah peristiwa penting terjadi: BBM 1 Harga akhirnya resmi mengalir ke Yaur.
Di halaman SPBU yang baru berdiri itu, sebuah truk milik PT Lintas Pegunungan Papua berhenti perlahan. Mesinnya masih menyala ketika selang pengisian pertama kali dimasukkan ke tangki. Itulah pengisian perdana—tanda bahwa penantian panjang masyarakat Yaur terhadap akses BBM yang layak dan harga jauh dari harga seperti biasa mereka beli, akhirnya muncul dan mulai terjawab.



Sore Jumat (9/1/2026) itu bukan sekadar peresmian sebuah APMS/SPBU. Ia adalah penanda perubahan.
Di sisi area SPBU, terbentang sebuah spanduk besar bertuliskan: “Pendistribusian dan Penyaluran BBM Perdana SPBU 1 Harga PT Sakti Adhi Pertiwi 86.988.11 di Distrik Yaur Kabupaten Nabire Provinsi Papua Tengah oleh PT Lintas Pegunungan Papua.” Tulisan itu menjadi saksi bahwa di tempat yang selama ini jauh dari jangkauan distribusi energi, negara akhirnya benar-benar hadir.
Prosesi peresmian diawali dengan ibadah Hindu yang dipimpin Mangku Suatam. Dalam suasana hening yang dibalut angin sore, doa-doa dipanjatkan agar SPBU ini kelak menjadi sumber manfaat, bukan hanya sebagai tempat mengisi bahan bakar, tetapi juga sebagai penggerak kehidupan ekonomi masyarakat. Ada harapan yang diselipkan di antara dupa dan doa, harapan tentang jalan yang lebih hidup, harga yang lebih adil, dan masa depan yang lebih bergerak.
Sejumlah pejabat dan tokoh hadir menyaksikan momen bersejarah itu. Tampak Fuel Terminal Manager Nabire, Subekan Eko Nugroho, Sales Branch Manager Rayon 1 Papua Tengah, Muhammad Rinaldi Suryanto, Ketua DPC Hiswana Migas, Yeheskhiel Imbiri, Kapolsek Yaur, Danramil Distrik Kwantisore yang diwakili Babinsa Sertu Jarwo, Kepala Distrik Yaur, Ibu Marthina Hamberi, Pemilik SPBU BBM 1 Harga PT Sakti Adhi Pertiwi, I Dewa Gede Sukewati, Ibu Tanti Dewa Gede Sukewati, sejumlah karyawan & karyawati PT.Pusaka Dewa Kresna, serta tokoh masyarakat dan warga setempat. Wajah-wajah mereka memantulkan rasa lega, seolah ikut menyadari bahwa hari itu, Yaur sedang memulai babak baru.

SPBU BBM 1’Harga Yaur Tumbuhkan Perputaran Ekonomi
Dalam sambutannya, Fuel Terminal Manager Nabire Subekan Eko Nugroho bercerita tentang betapa tidak mudahnya menyalurkan energi ke wilayah seperti Yaur. Dari Nabire saja, katanya, sudah bisa tergambar bagaimana beratnya medan, panjangnya jarak, dan rumitnya logistik yang harus ditempuh.
“Ini adalah bentuk komitmen kami di Pertamina Patra Niaga bersama PT Sakti Adhi Pertiwi untuk menghadirkan energi di Distrik Yaur dan sekitarnya,” ujarnya.
Ia pun mengajak semua pihak, pemerintah distrik, TNI, Polri, dan masyarakat untuk bersama-sama menjaga agar APMS/SPBU ini bisa beroperasi dengan aman dan berkelanjutan.
Subekan juga menyampaikan bahwa ke depan, bukan tidak mungkin produk-produk subsidi seperti Pertalite dan Biosolar akan ikut dihadirkan, setelah seluruh perizinan rampung. Harapannya sederhana, namun bermakna besar : agar perputaran ekonomi di Yaur perlahan tumbuh, dan jarak antara kota dan pelosok tidak lagi terlalu terasa dalam urusan energi.

SPBU BBM 1 Harga Yaur Jadikan Harga BBM Sama dengan Daerah Lain
Sementara itu, Sales Branch Manager Rayon I Papua Tengah Muhammad Rinaldi Suryanto mengingatkan bahwa BBM 1 Harga bukan sekadar program bisnis. Ia adalah penugasan negara.
“Ini adalah bentuk kehadiran negara di daerah-daerah 3T. Di tempat-tempat seperti Yaur, di mana selama ini harga BBM bisa melambung jauh dari harga nasional,” katanya.
Ia menyebut, selama ini harga Pertalite di Yaur bisa mencapai Rp18.000 per liter. Dengan beroperasinya SPBU ini, harapannya harga akan turun dan disamakan dengan daerah lain : sekitar Rp10.000 untuk Pertalite dan Rp6.800 untuk Biosolar. Selain itu, SPBU ini juga akan menyediakan Pertamax dan Dexlite.
Namun yang lebih penting dari sekadar angka, lanjut Rinaldi, adalah efek berantai yang akan muncul. Ketika biaya energi turun, biaya hidup pun ikut turun. Harga ikan, bahan makanan, dan ongkos transportasi perlahan bisa lebih terjangkau. Di sekitar SPBU ini, ia membayangkan kelak akan tumbuh warung, rumah makan, dan tempat singgah bagi kendaraan lintas Papua Tengah dan Papua Barat.

Sore semakin meredup. Matahari hampir sepenuhnya tenggelam ketika acara peresmian ditutup. Namun di Distrik Yaur, hari itu justru terasa seperti matahari baru saja terbit.

Bagi masyarakat setempat, SPBU BBM 1 Harga ini bukan sekadar bangunan dan pompa bahan bakar. Ia adalah tanda bahwa harapan, yang selama ini terasa jauh, kini mulai mendekat—perlahan, tapi nyata.
Dan di ujung jalan Papua Tengah itu, sore hari menjadi saksi: energi akhirnya tiba. (RED-GALA MANDIRI)


Leave A Comment