BK 18

Tegas Tapi Humanis Polisi Cegah siswa siswi di Nabire terpapar doktrin Radikal

NABIRE – Masa depan generasi muda di Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah, kini menghadapi tantangan serius. Para pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) yang seharusnya fokus mengejar prestasi akademis demi masa depan, kini mulai menjadi sasaran empuk penyebaran doktrin dan ideologi radikalisme yang di lakukan secara masif.

Ancaman rusaknya masa depan generasi muda para siswa siswi sekolah ini terungkap nyata pada Sabtu (25/7/2026), ketika pihak Kepolisian Resor (Polres) Nabire terpaksa mengamankan sekitar 60 orang pelajar SMA. Mereka kedapatan tengah berkumpul di kawasan Pantai Pintu Angin, Kampung Waroki, Distrik Nabire Barat.

Aksi para pelajar ini terendus setelah aparat kepolisian menerima laporan dari warga setempat yang mencurigai adanya aktivitas tidak biasa di area pantai. Menindaklanjuti informasi tersebut, polisi langsung bergerak cepat mendatangi lokasi kejadian.

Di lokasi, petugas menemukan puluhan siswa-siswi tersebut sedang berkumpul sambil mengibarkan atribut bendera Bintang Kejora. Tidak hanya itu, mereka juga diketahui tengah mempelajari sejumlah buku bacaan yang berisi ajaran paham radikalisme.

Dalam penertiban tersebut, polisi menyita sejumlah barang bukti kuat di antaranya:

Bendera Bintang Kejora, Buku-buku bacaan berisi paham dan ideologi radikal, Senjata tajam (sajam) Kapak dan Pisau, beserta barang bukti penunjang lainnya

Seluruh pelajar yang terjaring langsung dibawa ke Mapolres Nabire untuk dilakukan pendataan dan pengambilan keterangan. Di antara puluhan anak tersebut, polisi mengidentifikasi adanya 8 orang siswa senior yang diduga kuat bertindak sebagai inisiator untuk menyebarkan paham radikal kepada adik-adik kelas mereka.

Setelah menjalani pemeriksaan intensif sejak Sabtu sore, 8 siswa senior tersebut akhirnya dipulangkan oleh pihak kepolisian pada Minggu (26/7/2026) menyusul rekan-rekan mereka yang sudah dipulangkan terlebih dahulu.

Proses pengamanan hingga pemeriksaan seluruh pelajar dilakukan dengan metode yang sangat humanis. Langkah ini diambil karena polisi memandang para siswa-siswi tersebut merupakan korban dari masifnya upaya doktrinasi kelompok tertentu.

Tindakan tegas namun humanis yang dilakukan kepolisian ini merupakan bentuk nyata upaya negara dalam melindungi generasi muda agar tidak terjerumus ke dalam ideologi keliru yang dapat merusak masa depan mereka.

Fenomena ini menjadi alarm keras bagi seluruh elemen masyarakat di Papua Tengah. Kondisi ini memerlukan perhatian serius dan ekstra dari semua pihak, terutama orang tua murid dan para guru di sekolah.

Pengawasan yang ketat terhadap lingkungan pergaulan anak, bahan bacaan, serta aktivitas di luar jam sekolah menjadi kunci utama. Sinergi antara keluarga dan pihak sekolah sangat dibutuhkan demi membentengi mentalitas pelajar, sehingga mampu melahirkan generasi penerus yang berkualitas dan bermanfaat bagi kemajuan daerah di masa depan.(red Gala Mandiri)

 

 

 

 

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *