
Nabire , Papua Tengah– GALA MANDIRI – Kabupaten Nabire, Papua Tengah, bersiap mengoptimalkan kembali enam komoditas perkebunan unggulan guna mendukung kebijakan hilirisasi nasional sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 192 Tahun 2024 dan Perpres Nomor 132 Tahun 2024.
Kedua regulasi tersebut menitikberatkan pada penguatan infrastruktur, kebijakan, serta pengembangan industri hilir sektor pertanian dan perkebunan agar mampu meningkatkan nilai tambah produk, memperkuat daya saing ekspor, sekaligus mendorong kesejahteraan petani.
Secara nasional, pemerintah telah menetapkan tujuh komoditas prioritas hilirisasi perkebunan, yaitu kelapa, kakao, kopi, tebu, mete, lada dan pala, serta sawit. Dari daftar tersebut, Kabupaten Nabire memiliki enam komoditas potensial, yakni kopi, kelapa, kakao, sagu, pinang, dan sawit.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Nabire, Ronald Wilson Manuaron, mengatakan bahwa kondisi geografis Nabire yang berada di kawasan Teluk Cenderawasih dengan tanah yang subur menjadikan wilayah ini sangat menjanjikan untuk pengembangan perkebunan.
“Sesuai Perpres Nomor 192 dan 132 tentang hilirisasi, Kabupaten Nabire memiliki enam komoditas unggulan, yaitu kopi, kelapa, sagu, kakao, pinang, dan sawit,” ujarnya, Selasa (19/1).

Ia menjelaskan, kopi menjadi salah satu komoditas andalan utama. Papua dikenal memiliki dua jenis kopi sekaligus, yakni Robusta dan Arabika, yang kualitasnya tidak kalah dengan kopi dari daerah lain di Indonesia.
“Kopi Robusta dikembangkan di dataran rendah di bawah 800 mdpl, sedangkan Arabika di dataran tinggi di atas 800 mdpl dengan suhu yang lebih sejuk, seperti di wilayah Siriwo, Dipa, Uwapa, dan Menao,” jelasnya.
Pada tahun 2024, Pemerintah Kabupaten Nabire melalui Dinas Pertanian menerima bantuan bibit kopi dari Kementerian Pertanian RI yang bersumber dari APBN. Mulai tahun 2025, pembinaan dan pengelolaan tanaman kopi dilanjutkan oleh Dinas Peternakan dan Perkebunan.
“Mulai 2025 kami fokus melakukan pembinaan intensif kepada petani kopi karena kopi masuk dalam kategori tanaman perkebunan,” kata Ronald.
Ia berharap pada tahun 2026 pemerintah pusat kembali menyalurkan bantuan serupa untuk memperkuat pengembangan sektor perkebunan di Nabire. Apalagi saat ini harga kopi di pasar nasional maupun internasional dinilai cukup stabil dan menjadi pemicu semangat petani untuk kembali mengembangkan kebun kopi mereka.
Berdasarkan data pengembangan kopi tahun 2024, potensi lahan di sejumlah distrik masih sangat luas. Di Distrik Uwapa, potensi lahan kopi mencapai 300 hektare, namun baru dimanfaatkan sekitar 25 hektare dengan produksi 5 ton dan melibatkan 52 kepala keluarga petani.
Distrik Menou memiliki potensi lahan 2.373 hektare, tetapi yang sudah dimanfaatkan baru sekitar 31 hektare dengan produksi 7 ton dan melibatkan 23 KK. Distrik Dipa memiliki potensi 1.773 hektare, dengan pemanfaatan sekitar 27 hektare dan produksi 5 ton.
Sementara itu, Distrik Nabire Barat memiliki potensi 2.625 hektare, namun baru dimanfaatkan sekitar 41 hektare dengan produksi 2,5 ton dan melibatkan 39 KK petani. Distrik Siriwo menjadi wilayah dengan potensi terbesar, yakni mencapai 6.325 hektare, dengan luas tanam sekitar 135 hektare dan produksi mencapai 15 ton yang dikelola oleh 73 KK petani.

Selain kopi, potensi perkebunan Nabire juga mencakup sagu yang tersebar di Kampung Makimi, Distrik Makimi, serta wilayah Kwatisore dan Yaur. Untuk kelapa, pengembangannya berada di Distrik Moora, khususnya Kampung Mambor, Hariti, dan Moor, serta Distrik Makimi, Samabusa, Wanggar, dan Yaur.
Ronald mengungkapkan bahwa saat ini permintaan pasar dari luar Papua terhadap komoditas perkebunan asal Nabire cukup tinggi, terutama kelapa dalam bentuk kopra maupun kelapa bulat.
“Permintaan pasar sangat besar. Ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi daerah untuk mendorong hilirisasi agar nilai tambahnya bisa dinikmati langsung oleh petani dan masyarakat Nabire,” pungkasnya.(RED-GALA MANDIRI)


Leave A Comment