IMG_20260127_131250

Kerusakan Jalan Nabire–Paniai di KM 139–141 Disorot, DPR Papua Tengah Minta PUPR Segera Tangani


Nabire, Papua Tengah-GALA MANDIRI – Kerusakan parah ruas jalan Nabire–Paniai di Kilometer 139 hingga 141 kembali menjadi sorotan publik. Kondisi jalan yang terus mengalami penurunan dan rusak berulang kali ini bahkan viral di media sosial, memicu desakan agar Kementerian PUPR segera turun tangan melakukan penanganan serius dan menyeluruh.
Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, John NR Gobai, menegaskan bahwa kerusakan yang terjadi bukan semata-mata persoalan kualitas aspal, tetapi lebih pada tidak tersedianya sistem drainase yang memadai, baik di permukaan maupun di bawah tanah.


“Di titik KM 141 ini jalannya selalu rendah dan terus turun meskipun sudah berulang kali ditimbun dan diaspal. Ini kuat dugaan karena ada aliran air bawah tanah yang tidak diberi jalur,” ujar Gobai, Jumat (…).
Menurutnya, ketiadaan talut dan box culvert di sepanjang ruas tersebut menjadi penyebab utama air tidak memiliki jalur pembuangan yang baik. Akibatnya, air meresap ke badan jalan, melemahkan struktur tanah, dan menyebabkan penurunan serta kerusakan berulang.
“Air ini tidak punya tempat berjalan. Talut belum dibangun secara merata, box culvert juga tidak ada. Akhirnya air merusak jalannya manusia,” tegasnya.


Gobai menjelaskan, selama ini ruas jalan Nabire–Paniai memang dibangun di kawasan pegunungan dan di sisi-sisi jurang, sehingga konstruksi penahan tebing (talut) dan sistem drainase bawah tanah menjadi kebutuhan mutlak untuk menjaga stabilitas badan jalan.
Ia menambahkan, berdasarkan pengamatan di lapangan, aspal di titik tersebut rata-rata hanya bertahan 4 sampai 5 bulan, sebelum kembali rusak akibat penurunan tanah.
“Karena itu, sebelum desain penanganan dibuat, ruas ini harus dibor tanah terlebih dahulu untuk mengetahui bidang longsor dan arah aliran air bawah tanahnya. Supaya penanganannya tepat dan tidak hanya tambal sulam,” katanya.
DPR Papua Tengah pun mengusulkan beberapa langkah penanganan prioritas, antara lain:
Pembangunan talut secara merata di kiri dan kanan jalan.
Pembuatan alur pembuangan air bawah tanah dan, bila perlu, membangun jembatan kecil di atas jalur air tersebut.
Pembangunan box culvert sebagai jalur lintasan air hujan dan air bawah tanah.
“Kalau ini tidak ditangani secara serius, kerusakan akan terus berulang dan anggaran negara akan terus habis untuk pekerjaan yang sama setiap tahun,” tutup Gobai.
Ruas jalan Nabire–Paniai sendiri merupakan akses vital yang menghubungkan wilayah pesisir dengan daerah pegunungan di Papua Tengah, sekaligus jalur utama distribusi barang dan mobilitas masyarakat Papua Tengah.(RED-GALA MANDIRI)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *