IMG_20261015_130350_321

Katherin Maruanaya Nahkodai PASI Nabire, Bidik Lahirnya Atlet Berprestasi dari Sekolah

NABIRE, PAPUA TENGAH | GALA MANDIRI - Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Kabupaten Nabire memasuki babak baru kepengurusan untuk periode 2026–2030 di bawah kepemimpinan Katherin Maruanaya. Kepengurusan yang baru diharapkan mampu memperkuat fondasi pembinaan atlet, terutama dalam menjaring dan mengembangkan potensi generasi muda sejak usia dini. ‎ ‎Katherin resmi memimpin PASI Kabupaten Nabire setelah melalui musyawarah yang dilanjutkan dengan pelantikan pengurus di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, Selasa (13/10/2026). ‎ ‎Dalam sambutannya, Katherin menegaskan bahwa kepengurusan baru memiliki tanggung jawab besar untuk mendorong kemajuan olahraga atletik di Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah. Menurutnya, keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh kepengurusan, tetapi juga oleh kerja sama, komitmen, dan kesediaan seluruh pengurus untuk mengutamakan kepentingan bersama. ‎ ‎Ia mengajak seluruh jajaran PASI Nabire membangun semangat kebersamaan serta mengesampingkan kepentingan pribadi demi meningkatkan kualitas pembinaan dan melahirkan atlet yang mampu mengharumkan nama daerah. ‎ ‎Salah satu fokus utama yang akan didorong selama masa kepemimpinannya adalah pencarian bibit atlet potensial melalui sekolah-sekolah. Katherin menilai lingkungan pendidikan memiliki peran strategis dalam menemukan anak-anak yang mempunyai kemampuan dan minat di bidang atletik. ‎ ‎Menurutnya, potensi tersebut perlu diidentifikasi sejak dini, kemudian dikembangkan melalui program latihan yang terarah, pendampingan yang berkelanjutan, serta dukungan fasilitas olahraga yang memadai. ‎ ‎“Pembinaan atlet harus dimulai dari usia dini. Kita harus mencari bibit-bibit potensial dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk berkembang hingga mampu berprestasi, baik di tingkat daerah, nasional maupun internasional,” ujarnya. ‎ ‎Katherin menekankan bahwa setiap anak yang memiliki bakat olahraga harus memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang. Karena itu, proses penjaringan dan seleksi atlet perlu dilaksanakan secara terbuka dengan mengutamakan kemampuan, potensi, dan hasil yang ditunjukkan selama proses pembinaan. ‎ ‎Ia juga mengingatkan bahwa mencetak atlet berprestasi membutuhkan waktu dan proses yang panjang. Kemampuan atlet tidak dapat dibentuk secara instan, melainkan melalui latihan rutin, kedisiplinan, evaluasi, serta pengalaman bertanding dalam berbagai kejuaraan. ‎ ‎Perkuat Koordinasi dan Dukungan Fasilitas ‎ ‎Selain pembinaan atlet usia dini, Katherin menyoroti keterbatasan sarana dan prasarana olahraga sebagai salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama. ‎ ‎Menurutnya, Nabire memiliki generasi muda yang berpotensi berkembang menjadi atlet berprestasi. Namun, potensi tersebut perlu ditunjang dengan fasilitas latihan, pendampingan yang berkualitas, serta dukungan anggaran yang memadai. ‎ ‎Untuk menjawab tantangan tersebut, ia mendorong penguatan koordinasi antara PASI Kabupaten Nabire, PASI Provinsi Papua Tengah, pemerintah daerah, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), dan Dinas Pendidikan. ‎ ‎Sinergi antarlembaga dinilai penting agar program pembinaan atlet dapat berjalan secara terencana, sekaligus membuka peluang bagi atlet lokal untuk memperoleh dukungan dan akses mengikuti berbagai kejuaraan. ‎ ‎Katherin berharap atlet-atlet asal Nabire tidak hanya mendapatkan kesempatan berlatih, tetapi juga memperoleh ruang untuk menguji kemampuan melalui Kejuaraan Daerah (Kejurda), Kejuaraan Nasional (Kejurnas), hingga Pekan Olahraga Nasional (PON), sesuai dengan tahapan pembinaan dan kualifikasi yang harus dipenuhi. ‎ ‎Baginya, kompetisi merupakan bagian penting dari proses pengembangan atlet. Melalui pertandingan, atlet dapat mengukur kemampuan, mengevaluasi hasil latihan, serta mengenali aspek-aspek yang masih perlu ditingkatkan. ‎ ‎Pengalaman bertanding juga menjadi bekal penting untuk membangun mental, kedisiplinan, dan kepercayaan diri dalam menghadapi persaingan di tingkat yang lebih tinggi. ‎ ‎Di sisi lain, Katherin mengakui keterbatasan anggaran masih menjadi tantangan dalam pengembangan olahraga atletik di Nabire. Ia berharap kehadiran Provinsi Papua Tengah dapat membuka peluang dukungan yang lebih besar terhadap pembinaan atlet, termasuk melalui program-program yang direncanakan pada 2027. ‎ ‎Dukungan tersebut diharapkan dapat diarahkan pada peningkatan fasilitas olahraga, penguatan program latihan, serta pembiayaan keikutsertaan atlet dalam kompetisi. ‎ ‎Bangun Sistem Pembinaan Berkelanjutan ‎ ‎Katherin menegaskan, kemajuan atletik di Nabire harus dibangun melalui sistem pembinaan yang terencana dan berkelanjutan. Pembentukan kepengurusan saja tidak cukup apabila tidak diikuti dengan program kerja yang jelas dan pelaksanaan yang konsisten. ‎ ‎Karena itu, ia berharap seluruh pengurus PASI Nabire dapat menjalankan tanggung jawab masing-masing dengan mengedepankan kerja sama dan orientasi pada peningkatan prestasi atlet. ‎ ‎Menurutnya, keberhasilan pembinaan bukan semata-mata diukur dari kemenangan dalam sebuah kejuaraan, tetapi juga dari kemampuan organisasi dalam menemukan bakat-bakat baru, meningkatkan kualitas atlet, dan menciptakan regenerasi yang berkesinambungan. ‎ ‎Kepemimpinan Katherin untuk periode 2026–2030 pun diharapkan menjadi momentum memperkuat pembinaan atletik di Kabupaten Nabire sekaligus membuka jalan bagi generasi muda untuk meraih prestasi yang lebih tinggi. ‎ ‎Ia mengajak seluruh pengurus, pemangku kepentingan, dan pihak terkait untuk bersama-sama membangun olahraga atletik agar semakin berkembang dan mampu memberikan kontribusi bagi kemajuan olahraga di Provinsi Papua Tengah. ‎ ‎“Setelah pelantikan ini, kita baru mau mulai bekerja untuk periode 2026 sampai 2030. Saya berharap kita bergandengan tangan dan bekerja bersama-sama untuk memajukan atlet di Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah,” tutup Katherin. (RED-GALA MANDIRI)

Ikuti di Media Sosial

Berita Populer